oleh

Teknokrat: Meski Hujan, KRTI Tetap Sukses

Radarlampung.co.id – Semangat tinggi Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) tetap berkobar. Meski pada hari kedua kemarin (7/11) hujan mengguyur area Kota Baru, Jatiagung, Lampung Selatan, peserta empat divisi perlombaan KRTI tetap semangat berkompetisi.

Pantauan Radar Lampung, cuaca pada hari kedua sejak pagi mendung. Dan sekitar pukul 12.00 WIB, hujan rintik-rintik hingga lebat sempat mengguyur lokasi perlombaan. Kendati demikian, peserta, dewan juri, dan penonton tetap semangat.

Peserta empat divisi yang diperlombakan, yakni VToL, Fixed Wing, Racing Plane, dan Technology Development. Dalam KRTI tahun ini, Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) mengikuti tiga divisi, yaitu VToL, Fixed Wing, dan Racing Plane.

Tim juri divisi Fixed Wing (FW) Mona Arif Muda Batubara menjelaskan, meskipun lokasi kontes diguyur hujan, lomba tetap bisa dilaksanakan. Karena robot terbang dari peserta telah didesain tahan air. Sehingga tidak menjadi kendala.

Menurutnya, kendala yang dihadapi justru teknis. Hanya terjadi pada  robot terbang yang gagal melakukan penerbangan, habis baterai dan hilang signal.

Mona Arif menjelaskan, kontes Divisi FW kali ini mengangkat tema  Monitoring dan Mapping Area Perkebunan yang disesuaikan dengan tempat kontes. Yakni Lampung yang dikenal dengan daerah pertanian dan perkebunan.

Diharapkan, dengan terselenggaranya kontes ini dapat memberikan inspirasi bagi pemerintah daerah, peneliti atau kampus, dan seluruh masyarakat Indonesia.

Dalam menjalankan robot terbang divisi FW dikenal salah satu aplikasi UAV (Unmanned Aeruial Vehicle) atau UAS (Unmanned Aerial System) yang sangat potensial sebagai wahana terbang karena mampu melakukan pemantauan dan pemetaan pada suatu kawasan.

Hingga siang pada hari kedua kontes, untuk divisi FW, dari 24 tim yang berjumlah 96 orang, tercatat hari pertama 1 gagal karena daya baterai habis. Hari kedua 4 tim gagal dengan kendala gagal take off (lepas landas).

Foto: M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG

Peserta divisi FW, lanjut Mona Arif, setidaknya harus menyelesaikan dua misi. Pertama, wahana atau robot dapat menemukan objek drum berwarna biru dan mampu memetakan jalur logistic sepanjang 1.500 m dan area mapping sekitar 1.500 m x 1.500m.

Dikatakan Tim Juri Divisi FW lainnya, Dr. Ir. Endra Pitowarno, M.Eng mengatakan, banyak pesawat misinya tidak komplet. Yang komplet, kata dia, cuma satu yang dianggap nilainya sempurna.

Meskipun demikian, menurut Dr. Endra, tahun ini ada kemajuan, dibandingkan tahun lalu tidak ada yang komplit.

Banyak faktor hal tersebut bisa terjadi. Misal karena kecerdasan dan kemampuan terbang. Ada pesawat yang bisa mengirim logistik tapi menerimanya tidak tepat.

Humas UTI Wiwin mengatakan, kendati diguyur hujan, hari kedua cukup sukses. Sebanyak 240 sisiwa dari 6 SMA/SMK se-Lampung beserta pendamping ikut berpartisipasi dalam mengaksikan perlombaan.

“Itu salah satu upaya membumikan teknologi robotik di Lampung.  Teknokrat mengundang ratusan siswa SMA sederajat untuk turut menyaksikan kontes tersebut,” terangnya.

Ketua panitia lokal Agus Mulyono mengatakan, kontes masih berjalan dan pelaksanaan lomba berlangsung lancar. “Pengumuman pemenang akan dilaksanakan besok (hari ini, 8/11) sekira pukul 17.00 WIB di kampus Teknokrat bersamaan dengan acara penutupan,” tandasnya. (apr/c1/wan/rlo)

Komentar

Rekomendasi