oleh

LPA Tubaba Kawal Kasus Pemerkosaan oleh Satpam Sekolah

RADARLAMPUNG.CO.ID – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) memastikan pihaknya terus mendampingi MU (13), korban perkosaan oleh oknum satpam di sebuah SMP di Kecamatan Lambukibang, kabupaten setempat hingga tuntas.

Ketua LPA Tubaba Elia Sunarto mengatakan, pihaknya kini berupaya kasus tersebut dapat berjalan sesuai koridor hukum. Karena, dugaan kasus pemerkosaan oleh satpam SMP tersebut sangat menarik perhatian publik. Elia berharap semua pihak dapat membantu, sehingga pelakunya dapat mempertanggungjawabkan perbuatanya sesuai aturan hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semula, lanjut Elia, kasus tentang dugaan pemerkosaan itu telah ditutup, sehingga pihak korban enggan melaporkan hal itu ke polisi. Namun berkat pemahaman yang ia berikan bersama Kanit PPA Polres Tuba, akhirnya kasus ini terus berlanjut hingga tersangka yang juga honorer pelatih pramuka itu ditahan polisi.

Sebagai sebuah wadah penyadaran agar tidak ada lagi anak-anak menjadi korban pelecehan dan kejahatan, LPA Tubaba akan mengerahkan seluruh kemampuan sehingga pengetahuan masyarakat akan semakin meningkat. ’’Bukti masih lemahnya pengetahuan masyarakat tentang kekerasan terhadap anak di kasus yang ada di Lambukibang ini,” katanya.

Seperti diberitakan Radar Lampung (12/11/18) Irwan Masno (27) terpaksa merasakan dinginnya hotel prodeo Mapolsek Lambukibang, Resort Tulangbawang (Tuba) lantaran diduga telah memperkosa MU (13), siswi kelas VII di salah satu SMPN di Tubaba.

Kapolres Tuba, AKBP Syaiful Wahyudi, SIK, S.H. mengatakan, tersangka ditangkap (11/18) sekitar pukul 20.30 WIB. Saat itu tersangka sedang bersembunyi di rumah pamannya yang berada di Tiyuh/Kampung Gunungsari, Kecamatan Lambukibang, Tubaba.

Pria yang berprofesi sebagai staf TU honorer di sekolah tersebut merupakan warga Tiyuh Gunungsari, Kecamatan Lambukibang, Tubaba. ’’Saat ini tim penyidik sedang melakukan pemeriksaan secara intensif, bagaimana pengakuan tersangka ini kami belum dapat laporan lanjutan,” katanya.

   Penangkapan tersangka ini dilakukan atas dasar laporan EY (44) orang tua kandung korban. Pria yang berprofesi sebagai petani ini membuat laporan Polisi Nomor: LP/98/B/X/2018/ Polda Lpg/Res Tuba/Sek Kibang, tanggal 29 Oktober 2018.

Lebih dalam diungkapkan Syaiful, berdasarkan keterangan sementara yang diperoleh tim penyidik, peristiwa dugaan pemerkosaan ini terjadi pada Minggu Juli 2018, sekira pukul 10.00 WIB di Gedung Pramuka tempat korban bersekolah. Orang tua korban baru mengetahuinya peristiwa tersebut berdasarkan keterangan Eko Bayu Saputra, Minggu (21/10) sekira pukul 20.00 WIB.

Mendengar informasi tersebut, orang tua korban langsung memanggil anaknya dan korban pun bercerita dalam kondisi ketakutan. Sebab MU mengakui, setelah tersangka menodainya, tersangka sempat mengancam akan membunuh korban dan keluarganya jika ia bercerita tentang peristiwa tersebut.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun pihaknya, polisi kini telah mengamankan sejumlah barang bukti (BB), masing-masing terpal tenda terbuat dari parasut warna hitam kombinasi warna merah jambu dan kuning primary, kunci Gudang Gedung Pramuka, kaos lengan pendek warna merah kombinasi biru bertuliskan panitia O2SN, training panjang warna hitam kombinasi putih, HP (handphone) Advan hitam, sepeda motor Suzuki Smash hitam tanpa plat nomor beserta kunci kontak dan surat tanda nomor kendaraan (STNK).

   Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka kini dijerat penyidik dengan Pasal 81 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014, tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak. (fei/sur)

Komentar

Rekomendasi