oleh

RSUD BNH Hanya Layani Dua Pasien

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandar Negara Husada (BNH) dibangun dengan semangat pemerataan kesehatan. Sayangnya, infrastruktur seharga miliaran rupiah di Kota Baru, Jatiagung, Lampung Selatan (Lamsel), ini seperti tidak diminati warga.


BUTUH waktu sekitar 36 menit dari Bandarlampung untuk bisa sampai di RSUD BNH.

Sepanjang jalan menuju Kota Baru kemarin sore (18/11) tidak ramai pengendara melintas. Tak terlihat pula transportasi umum menuju rumah sakit pelat merah tersebut.

Meski demikian, kualitas jalan menuju RSUD BNH cukup baik. Beberapa titik jalan yang sebelumnya berlubang, tampak sudah ditambal.

Di kompleks RSUD BNH, kondisinya juga terlihat sepi. Rumput liar di depan kompleks tumbuh tak terurus. Di halaman depan, tiga ambulans terparkir.

Masuk ke dalam gedung utama, lobi resepsionis tampak kosong. Tidak ada petugas yang berjaga. Agak bergeser sedikit, di loket pendaftaran terpampang pengumuman. ’’Maaf.. BPJS sedang dalam proses perpanjangan. Untuk sementara, hanya melayani pasien umum,” begitu isi pengumuman tersebut.

Bangunan utama RSUD BNH terdiri dari tiga lantai. Di lantai pertama terdapat ruangan pendaftaran, rawat pasien, hingga ruangan dokter dan perawat. Di lantai dua juga terdapat ruangan rawat pasien dan bank darah.

Minggu (18/11), nyaris tidak ada aktivitas layaknya rumah sakit yang melayani pasien.

Informasi yang dihimpun Radarlampung.co.id, pembangunan RSUD BNH dilakukan kurun 2011-2017. Rumah sakit tanpa kelas ini diproyeksikan tidak hanya untuk melayani masyarakat Kota Baru. Tetapi juga masyarakat Lampung Timur (Lamtim) dan Metro.

Kehadiran RSUD BNH juga mendukung keberadaan RSUD Abdul Moeloek dan RS Jiwa Lampung.

Rumah sakit yang berada di bawah naungan Pemprov Lampung ini bertipe C. Total memiliki 104 kamar pasien dan berdiri di tanah seluas 20 ribu hektare. RSUD BNH memiliki luas bangunan 9.915 meter persegi. Pembangunannya menelan anggaran sebesar Rp27.443.186.000.

Fasilitas yang tersedia antara lain unit rawat jalan spesialis anak, bedah, penyakit dalam, kandungan, dan gigi. Selain itu terdapat unit rawat inap, gawat darurat, kebidanan, perinatologi, ICU, laboratorium, radiologi, gizi, laundry, farmasi, dan hemodialisa.

Minggu, ada dua pasien yang tengah dirawat di ruangan lantai satu. Keduanya dirawat dalam dua ruangan berbeda.

Sumarni (49) adalah salah satu pasien yang menjalani perawatan di RSUD BNH. Warga Desa Srimukti, Jatiagung, Lamsel, ini didiagnosis dokter menderita vertigo.

Madiri (50), suami Sumarni, mengatakan, beberapa hari lalu istrinya merasakan sakit di kepala. Sakitnya pun makin jadi. Khawatir, dia lantas berinisiatif membawa Sumarni ke RSUD BNH. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyarankan Sumarni dirawat.

’’Pas kami masuk rumah sakit ini, cuma ada satu pasien. Jadi sekarang (Minggu, Red) ada dua pasien sama istri saya,” katanya.

Sumarni dirawat di kamar nomor tiga. Sementara satu pasien lainnya dirawat di ruangan nomor empat. Ruangan nomor empat yang ada di samping ruangan Sumarni tampak tertutup.

Menurut Madiri, sebelum ada RSUD BNH, dirinya dan keluarga mengandalkan pelayanan puskesmas terdekat. Tetapi sejak RSUD ini beroperasi setahun silam, dia merasa pelayanan kesehatan yang ditawarkan lebih baik lagi.

’’Menurut saya, ini sangat membantu warga sekitar. Ya namanya rumah sakit di pedalaman. Untung saja ada. Jadi warga sini nggak perlu jauh-jauh ke Bandarlampung,” ucapnya.

Lantaran BPJS Kesehatan masih dalam proses, maka RSUD BNH hanya melayani pasien umum. Nah, Madiri mengaku belum tahu berapa biaya yang akan dikeluarkannya. Mengingat, Sumarni terdaftar sebagai pasien umum.

Selama Sumarni dirawat, ada tiga perawat yang melayani pasien. Di hari minggu, hanya ada dokter umum yang standby di unit gawat darurat (UGD). Hal ini diungkapkan salah seorang perawat yang enggan disebutkan namanya.

’’Dokter spesialis jadwalnya seminggu sekali untuk praktik polikliniknya,” kata dia.

Wartawan koran ini kemudian naik ke lantai dua gedung utama RSUD BNH. Untuk naik ke lantai dua dan tiga bisa menggunakan dua akses. Yakni  lift dan tangga. Sayang, sore kemarin lift tidak dapat digunakan lantaran mati.

Di lantai dua ruang Way Seputih RSUD BNH itu, tak ada sama sekali pasien yang dirawat. Semua tempat tidur tampak masih baru dan dalam keadaan terbungkus plastik. Sementara ruang bank darah dalam keadaan terkunci.

Maricha, salah satu dokter yang bertugas, menyatakan, saat ini rumah sakit memang hanya melayani dua pasien rawat inap. Namun, menurutnya, sudah banyak masyarakat yang merasakan pelayanan RSUD BNH. Hanya, dia tidak tahu pasti berapa pasien yang telah dirawat di rumah sakit pelat merah tersebut.

’’Kalau sebelumnya banyak mas. Saya lupa berapa jumlahnya. Kalau hari ini (kemarin, Red) baru dua pasien,” ujarnya.

Menurut Maricha, untuk perawat dan dokter juga cukup. Para perawat dan dokter yang bertugas di RSUD BNH sebagian besar berasal dari RSUDAM.

’Tetapi kalau hari Minggu ini cuma bagian pelayanan yang dibuka. Rumah sakit ini kan masih proses merintis dan pembenahan,” kilahnya. (yud/nca/wdi)                           

Komentar

Rekomendasi