Berita Utama Kopra Masihkah Menjadi Rayuan (dari) Pulau Kelapa

Kopra Masihkah Menjadi Rayuan (dari) Pulau Kelapa

Dr. Irmayani Noer

Dr. Irmayani Noer
Dosen Program Studi Agribisnis Jurusan Ekonomi dan Bisnis
Politeknik Negeri Lampung

Roda pesawat terasa menyentuh landasan, alhamdulillah satu kebahagiaan tersendiri saat bepergian dengan pesawat terbang selain “garbarata” adalah dapat mendarat dengan selamat. Setelah selama lebih kurang 3 jam penerbangan Jakarta—Manado, akhirnya saya tiba di tanah nyiur melambai ini, Minahasa. Selamat datang, anda so sampai di Minahasa, terimakaseh suara merdu pramugari mengakhiri penerbangan.

Terdengar lagu Esa Mokan “Mengale ngale uman wia si Opo Wailan pakatuan pakalawiden kita nu waya”. Pakatuan pakalawiden mempunyai makna semoga selalu sehat dan bahagia merupakan semboyan masyarakat Minahasa bahkan bukan sebatas semboyan saja tetapi adalah doa yang diucapkan dalam setiap sapa.

Saya berkunjung ke Minahasa dalam rangka International Conference on Applied Science and Technology for Social Science bersama beberapa rekan dari Polinela. Saya tetap mengangkat isu tentang pemasaran kolektif dengan topik “Do Farmers Higher Benefit and Value Added from Collective Marketing? The Case of Coffee Marketing in Lampung Province Indonesia?” berangkat dari keinginan saya menyebarluaskan hasil penelitian tentang pentingnya kolektivitas dalam kelembagaan pemasaran komoditas pertanian.

Sejauh mata memandang terhampar nyiur yang menghijau di tepi pantai dan terbayang komoditas kopra yang menjadi salah satu produk unggulan ekspor Indonesia dimana negara kita adalah pengekspor nomor satu di dunia (BPS, 2017) dengan nilai ekspor produk turunan kelapa yaitu kopraperiode enam bulan pertama tahun 2018 sebesar US$ 185,98 juta. Patut disyukuri betapa besar karunia Allah SWT pada negara kita tercinta dengan berbagai hasil bumi dan hasil alam yang berlimpah dan menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk dan penggerak perekonomian wilayah.

Indonesia merupakan negara penghasil produksi kelapa terbesar di dunia diikuti negara Filipina dan India, dengan toal produksi 18,3 juta ton pada tahun 2016. Namun sayang, kekuatan Indonesia sebagai negara penghasil kelapa terbesar di dunia masih kurang dimaksimalkan. Industri pada komoditas ini masih belum banyak dikembangkan, produk turunan kelapa dipasarkan dalam bentuk komoditas kopra. Tetapi sangat disayangkan saat ini harga kopra di tingkat petani menurun dari tahun 2017, dimana pada akhir tahun yang lalu kopra masih dibeli dengan harga Rp 11.000 per kilogram saat ini dihargai Rp 6.000 – Rp 7.000 per kilogram, dan di tingkat pabrik sebesar Rp 8.000 per kilogram.

Sulawesi Utara menduduki peringkat ke dua setelah Provinsi Riausebagai daerah andalan penyumbang ekspor kopra nasional dan produksi kelapa dalam di Indonesia, sementara Provinsi Lampung menduduki peringkat ke sepuluh. Tanaman kelapa yang diusahakan sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang didominasi oleh petani kecil, dikelola secara tradisional dan dipasarkan dalam bentuk kelapa bungkil atau bungkil kopra. Untuk menghasilkan kopra, petani membutuhkan waktu penjemuran selama lebih kurang 4 hari. Kopra, dipasarkan dalam bentuk asalan dengan kadar air 6—7 persen kepada pengepul untuk tujuan ekspor. Untuk saat ini, mutu kopra yang dihasilkan masih tidak seragam sehingga menjadikan harga jual menjadi rendah.

Rendah dan tidak menentunya harga, membuat para petanikurang termotivasi untuk memproduksi kopra. Seperti halnya komoditas perkebunan pada umumnya, kendala utama yang dihadapi petani adalah dalam kelembagaan pasar yang dikuasai oleh pedagang/pengepul(di Lampung disebut istilah pengelempeng) mengakibatkan rendahnya posisi tawar petani dalam negosiasi harga. Ketergantungan pada pengepul dalam pemasaran merupakan ciri kelembagaan pasar produk pertanian pada umumnya.

Salah satu cara keluar dari krisis pemasaran ini adalah bagaimana membangun kekuatan bersama atau “berpoligami” dalam pemasaran melalui pemasaran kolektifsehingga dapat meningkatkan posisi tawar dan dapat memberikan harga, keuntungan, dan nilali tambah yang lebih tinggi kepada petani. Pemasaran kolektif sering dianggap sebagai alternatif yang menjanjikan untuk saluran konvensional. Kekuatan petani dalam pemasaran komoditas pertanian dapat dibangun melalui kelompok/organisasi baik formal maupun informal.

Disamping dapat memecahkan beberapa masalah akses pasar yang dihadapi akibat perubahan yang terjadi di pasar pertanian dan pola perdagangan globaloleh petani skala kecil, seperti kurangnya informasi pasar, akses kredit dan bantuan teknis. Peningkatan akses pasar bagi petani melalui organisasi petani produsen, dapat menyebabkan peningkatan pendapatan dan ketahanan pangan, lebih banyak kesempatan untuk pekerjaan di pedesaan, dan pertumbuhan pertanian berkelanjutan. Melalui pemasaran secara kolektif diharapkan terbangun kekuatan di tingkat petani sehingga petani dapat menerima harga yang lebih baik.

Meskipun Indonesia sesungguhnya saat ini sedang berada dalam keadaan “darurat” dimana ekonomi terguncang karena keterpurukan nilai tukar rupiah; serta bencana alam yang tidak hanya memporakporandakan bangunan dan menghilangkan nyawa manusia, tetapi juga menggerus perekonomian karena pemerintah selalu mengunakan alokasi APBN untuk penanganan bencana alam dan rekonstruksi wilayah. Lebih buruk lagi adalah stabilitas negara yang terganggu karena keadaan ini menjadi isu yang gampang dipolitisasi. Akan tetapi kondisi ini hendaknya tidak menyurutkan langkah pemerintah untuk terus menerus mengembangkan potensi ekspor komoditas pertanian (perkebunan) yang hingga saat ini masih menjadi andalan dalam perekonomian.

Demikian pula halnya dengan pemerintah Provinsi Lampung, sebagai salah satu daerah potensial bagi pengembangan komoditas kelapa dalam hendaknya terus melakukan upaya revitalisasi pada komoditas-komoditas pertanian yang berpotensi besar dalam menyumbang pendapatan daerah dan nasional.

Hal ini penting dilakukan untuk mengantisipasi globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdaganganserta dengan diterapkannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada akhir 2015 yang mendorong terjadinya persaingan kompetitif pada pasar komoditas yang terintegrasi. Bagaimana mendorongpara pelaku usaha di sektor pertanian agar mampu menang dan bersaing menghadapi perubahan pasar yang terjadi, seperti akses dan informasi pasar.

Bagaimana meningkatkan daya saing melalui peningkatan nilai tambah, penanganan hasil yang menjamin kualitas, peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan akses informasiterutama oleh petani skala kecil, menjadi agenda yang mendesak untuk dilaksanakan. Sehingga selain komoditas kopi yang saat makin naik kelas, diharapkan produk pertanian lainnya seperti kopra sebagai produk turunan kelapa dalam tetap memiliki daya tarik tersendiri dan tetap menjadi “rayuan” dari pulau kelapa. Semoga, tabik pun..

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini