oleh

Waktunya Harga BBM Turun, Ini Alasannya

RADARLAMPUNG.CO.ID – Harga minyak dunia tengah mengalami penurunan di kisaran USD60 per barel dari sebelumnya USD85 per barel. Pengamat Energi Marawan Batubara menilai pemerintah seharusnya menurunkan Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya BBM non Subsidi.

Berdasarkan data Internasional, harga minyak jenis Brent menyentuh level terendah sejak Juni 2017, yakni USD58,8 per barel pada akhir pekan lalu. Padahal harga sempat mencapai USD84,16 per barel pada 5 Oktober lalu, yang merupakan level tertinggi harga minyak Brent dalam tiga tahun terakhir.

Setali tiga uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar pun menguat. Sejak pertengahan tahun 2018, nilai tukar rupiah terus melemah hingga tembus Rp15.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Oktober lalu. Memasuki November, rupiah sudah kembali menguat hingga ke level Rp14.510.

“Jadi kalau bicara harga BBM umum, bukan yang khusus atau penugasan itu kan harganya berfluktuasi dan juga ragamnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Karena itu, seharusnya harga BBM juga ikut turun mengikuti peraturan yang ada,” katanya kepada Fajar Indonesia Network (FIN/Grup Radar Lampung), Minggu (2/12).

Menurut dia, untuk penyesuaian harga BBM Subsidi seperti solar harus merujuk kepada harga yang ditentukan pemerintah sejak April 2016. Sebab, terhitung sejak 2016 hingga sekarang, harga solar belum sekalipun naik.

“Nah, kalau untuk BBM Subsidi seperti solar, itu harus merujuk kepada harga pada bulan April 2016, itu kan enggak naik-naik sampai sekarang. Padahal, menurut Perpres 191, itu kan harganya berfluktuasi juga. Karena memang dulu harga solar diberi subsidi Rp500, sekarang naik jadi Rp2.000. Tapi kalau harga minyak dunia naik, nilai tukar rupiah turun, itukan harga keekonomiannya juga menjadi naik. Sekarang, dengan terjadi kembali penurunan harga minyak dunia, berarti tingal dilihat saja, harga keekonomiannya berapa?,” jelas dia.

Lanjut dia, gejolak penurunan harga minyak dunia saat ini, menurutnya hanya bersifat sementara. Jika dikaitkan faktor utamanya adalah over supplay. Terlebih, kebijakan Amerika Serikat yang pernah mengembargo Iran untuk tidak melakukan ekspor minyak mentah ke negara-negara lain sudah tidak berlaku.

“Dampak penurunan minyak dunia saat ini hanya sementara saja. Salah satu faktornya adalah over supplay, meskipun waktu itu naik karena ada paksaan embargo yang dilakukan Amerika terhadap Iran. Mereka tidak boleh mengekspor minyak mentah ke luar negeri. Waktu itu kan ada kekhawatiran terjadi kekurangan pasokan. Maka harga naik. Tapi Amerika mungkin takut sama negara-negara lain, sampai akhirnya dia merelaksasi juga tidak memaksa untuk tidak mengimpor minyak dari Iran. Makanya Tiongkok tetap berlanjut tetap mengimpor dari Iran. Sama juga dengan India dan beberapa negara di Eropa,” terangnya.

Sementara negera-negara Organization of the Petroleum Exporting Countries/Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) sendiri, produksinya masih belum dibatasi untuk menjaga harga minyak tetap tinggi.

Komentar

Rekomendasi