oleh

Luar Biasa, 233 Perusahaan Fintech Abal-abal

RADARLAMPUNG.CO.ID- Geliat perusahaan financial technology (fintech) terus mendapat sorotan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kepala OJK Provinsi Lampung, Indra Krisna mengatakan, sampai saat ini baru 73 perusahaan fintech yang terdaftar pada website resmi OJK. Dari jumlah tersebut 2 diantaranya berbasis syariah. Sisany perusahaan fintech yang memiliki izin resmi dari OJK.

“Untuk di Lampung sendiri, baru 1 perusahaan fintech yang akan mendaftarkan diri. Dan sampai saat ini masih mengurus perizinan untuk melengkapi syarat-syarat yang dibutuhkan,” tambahnya di Kalianda Lampung Selatan, Senin (10/12).

Selain itu, sambung dia, OJK juga mencatat sebanyak 233 perusahaan fintech yang perlu diwaspadai. Pasalnya, ratusan perusahaan fintch tersebut dinilai abal-abal oleh OJK. Daftar tersebut juga dapat dilihat pada website resmi OJK.

Lebih jauh, Indra mengatakan, POJK Nomor 77/POJK.01/2016 sebenarnya fokus kepada perusahaan fintech dengan sistem Peer to Peer (P2P) landing. Dalam artian, perusahaan harus memiliki satu borrower untuk satu lender. Perusahaan fintech yang termasuk dalam kategori itu lah yang nantinya akan diberikan izin oleh OJK.

“Kita akan lihat trennya sekarang, kalau memang sedang tren pinjaman online, kita lihat lagi apakah dia itu P2P landing. Kalau memang begitu ya akan kita berikan izin, tapi kalau tidak P2P landing, ya berarti dia hanya perusahaan pinjaman biasa,” katanya.

Tapi Indra tidak sependapat dengan anggapan bahwa perusahaan fintech akan menggerus perbankan konvensional. Sebab antara perbankan dan perusahaan fintech memiliki pangsa yang berbeda. Kemudian juga, dari besaran pinjaman perusahaan fintech ditujukan untuk jenis pinjaman kecil.

“Dan bank juga tetap dibutuhkan, karena transfer uang masih tetap lewat bank. Jadi saya rasa tidak akan mempengaruhi,” katanya. (ega/wdi)

 

Komentar

Rekomendasi