oleh

Penderita Kanker Payudara Butuh Uluran Tangan Para Dermawan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Sungguh malang nasib yang dialami Amah (60), warga Kecamatan Menggala. Nenek yang kediamannya tepat berada di belakang Kantor Sekretariat KPUD Tulangbawang ini dengan keterbatasan ekonomi, masih harus merasakan penderitaan yang begitu pedih. Betapa tidak, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan dengan keadaan badan yang semakin kurus akibat penyakit kanker payudara yang menjangkit di tubuhnya.

Dalam kesehariannya, dia hanya bisa terbaring di ranjang. Kanker ganas yang diderita membuatnya tak berdaya dan tidak mampu lagi melakukan aktifitas seperti semula.

Setahun yang lalu, penyakit yang dideritanya tersebut sudah berusaha diobati dengan berbagai macam cara. Bahkan sudah sempat dioperasi. Namun, bukanlah kesembuhan yang didapat, justru keadaannya kini semakin parah.

Suaminya, Hardi (63), yang berprofesi sebagai buruh serabutan juga tak mampu berbuat banyak dan memilih pasrah dengan keadaan istrinya. Dengan penghasilannya tidak menentu, jangankan membawa istrinya berobat ke rumah sakit, untuk memenuhi kebutuhan  sehari-hari pun tidak mampu. Belum lagi, peluang kerjaan yang saat ini semakin sulit didapatkan.

Di tengah kondisinya yang semakin parah, tidak banyak bantuan yang bisa diberikan keluarga dan sanak saudara, begitu juga tetangga yang hanya bisa membantu sekedarnya saja.

Yang bisa dilakukan Amah dan keluarga saat ini hanyalah pasrah menerima keadaan, dan mengharapkan bantuan dari tangan-tangan para dermawan dan donatur yang ingin berbagi meringankan derita yang dialaminya, untuk biaya pengobatan di rumah sakit dan kebutuhan lainnya.

Amah beserta keluarga dengan tangan terbuka mengharapkan bantuan yang datang. Bantuan yang diberikan sangat berarti besar bagi keluarga Amah, demi mendapatkan penanganan kesehatan dari rumah sakit agar Amah dapat sembuh kembali.

“Saya sudah berusaha membawa istri saya berobat. Bahkan sudah sempat operasi, namun kondisinya semakin parah. Saat ini saya sudah tidak mampu lagi membawa istri saya ke rumah sakit untuk berobat, karena saya sudah tidak memiliki uang simpanan apapun lagi selain rumah tempat tinggal saya saat ini,” ungkap Hardi kepada Radar Tuba (Grup Radarlampung.co.id).

Sebagai bentuk ikhtiarnya, Hardi nekat akan menjual rumah yang ditempatinya tersebut, agar istrinya dapat berobat. ”Saya ikhlas tinggal dimana saja asalkan istri saya dapat mendapatkan penanganan kesehatan. Namun menjual rumah tidak semudah menjual emas karena perlu waktu yang cukup lama, sedangkan istri saya sudah sangat membutuhkan penanganan kesehatan,” ucapnya dengan nada terbata-bata menahan tangis. (rls/sur)

Komentar

Rekomendasi