oleh

37 Pegiat Seni dan Budaya Dapat Bantuan Alat Kesenian

RADARLAMPUNG.CO.ID – Sebanyak 37 pegiat seni dan budaya menerima bantuan alat kesenian dari Pemkab Lampung Tengah di Lapangan Tenis Indoor, Kecamatan Gunungsugih, Rabu (26/12) sore. Selain itu dilakukan penyerahan sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sastra lisan Lampung atau dadi dari Kementerian dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lamteng Syarif Kusen menyatakan, penyerahan alat kesenian ini merupakan bentuk perhatian pemerintah daerah dalam melestarikan seni dan budaya di Indonesia. “Ada 37 pegiat seni dan budaya di Lamteng yang aktif yang kita berikan bantuan. Baik untuk seni gitar klasik, jaranan, reog, kesenian padang, hingga kesenian bali,” katanya.

Selain itu, kata Kusen, Lamteng juga mendapat penghargaan WBTB dari Kemendikbud. “Lamteng juga terpilih meraih WBTB dari Kemedikbud. Melalui sastra Lampung lisan dadi dari Kecamatan Pubian, pelestarian seni dan budaya harus terus dilakukan,” ungkapnya.

Sedangkan Kabid Kebudayaaan Arie Mawardi Effendi mewakili Kadisdikbud Lampung Sulpakar yang menyerahkan sertifikat WBTB menyatakan harapan semoga penghargaan WBTB menjadi titik awal seni dan kebudayaan di Lamteng. “Sastra lisan Lampung dadi telah mendapat WBTB. Semoga ini jadi titik awal seni dan kebudayaaan di Lamteng. Jangan sampai kesenian dan kebudayaan diklaim bangsa lain,” katanya.

Sementara Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto berharap keragaman seni dan budaya di Indonesia umumnya dan Lamteng khususnya dapat menjadi pemersatu. “Sesuai semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman suku, seni, dan budaya harus menyatukan. Jangan menimbulkan perpecahan atau konflik Sara,” katanya.

Seni dan budaya, kata Loekman, jangan hanya jadi kegiatan seremonial atau pentas tanpa makna. “Kesenian dan kebudayaan harus dilestarikan. Harus terus dilestarikan supaya berkembang. Jangan malah diklaim negara lain. Pertahankan dan umumkan kepada dunia. Sudah banyak seni dan buadaya kita diadopsi bangsa lain. Generasi muda jangan malu melestarikan budaya Indonesia,” katanya.

Pemberian bantuan alat kesenian, kata Loekman, tidak ada yang diistimewakan atau dianaktirikan. “Nggak ada anak emas atau dianaktirikan, mesikipun bupatinya orang Jawa. Kita semua warga Lamteng. Saya tak mau dengar selisih antar suku. Mari tingkatkan mutu kesenian,” ujarnya.

Pada 2019, kata Loekman, dirinya meminta di Gedung Sesat Agung Nuwo Balak ada semua alat kesenian. “Saya sudah lama ingin ada alat kesenian yang ditaruh di Gedung Sesat Agung. Pada 2019 harus diadakan. Nanti semua kesenian dan kebudayaan bisa tampil di Gedung Sesat Agung. Jika sudah ada didata dan diinventarisasi. Bisa tampil bergilir,” ungkapnya. (sya/sur)

Komentar

Rekomendasi