oleh

Penipuan Investasi, Polisi Periksa Tiga Saksi Korban

radarlampung.co.id – Kepolisian Sektor Tanjungkarang Barat (TkB) tengah mengembangkan penyidikan kasus penipuan investasi modal makanan ringan dengan total kerugian senilai Rp3 Miliar.

Kamis (3/1), tim penyidik meminta keterangan tiga orang saksi korban dalam kasus ini. Ketiganya yakni, Uun (PNS), Dwi Antoro (PNS) dan Depiansyah (Honorer).

Kapolsek TkB Kompol Hapran mengatakan, selain tiga orang saksi, pihaknya juga meminta keterangan tersangka, Melika Sari (32). “Yang sudah kita mintai keterangan ada tiga saksi. Semuanya saksi korban yang tempat kejadian perkaranya di Bandarlampung saja,” kata Hapran via sambungan telpon.

Diberitakan sebelumnya, berawal dari laporan Uun Sesulihing Warno (34) warga Jl Danau Batu, Surabaya, Kedaton, Bandarlampung, bersama 10 korban lainya melaporkan dugaan penipuan investasi dengan kerugian hingga Rp3 Miliar lebih.

Uun menceritakan, pada September 2017, dia diajak Melika yang tak lain temannya semasa kuiah berinvestasi di bisnis makanan ringan. ’’Pada September 2017, dia (Melika, Red) menawarkan investasi di bisnis makanan ringan. Dia mengiming-imingi keuntungan besar.

Karena katanya, dia mengambil makanan ringan langsung dari pabriknya PT Tanaka Jaya. Saya percaya saja karena dia teman saat di perguruaan tinggi,” tuturnya. Untuk meyakinkan Uun, Melika mengaku bosnya adalah seorang jaksa. ’’Kami berdua lantas membuat perjanjian bisnis di atas meterai,” imbuh Uun.

Awalnya, Uun menyetor Rp10 juta. ’’Jadi menurut dia, keuntungan dihitung per dus. Per dus dijual Rp47 ribu. Misalnya laku 1.000 dus, berarti uang diterima Rp47 juta. Nah, keuntungan dari hasil penjualaan Rp23 juta. Lalu Rp23 juta dibagi dua. Saya menerima Rp11.500.000. Dia juga menerima Rp11.500.000,” bebernya.

Di awal-awal, lanjut Uun, pembayaran lancar. Dalam sebulan, dia bisa menerima dua kali. ’’Namun pada Agustus 2018, pembayaran dari Melika mulai tersendat. Bahkan tiga bulan berikutnya tak ada pembayaran. Setiap saya tagih ada saja alasannya. Sedang libur Lebaran. Tidak ada mobil. Pokoknya alasannya banyak,” ungkapnya.

Merasa tertipu, Uun melapor ke Polsekta TkB pada pertengahan Desember. ’’Setelah tersangka diamankan polisi, ternyata surat kontrak kerja sama dengan PT Taraka Jaya senilai Rp2,350 miliar palsu. Selain itu, soal pengakuan dia kalau bosnya jaksa juga tidak benar,” paparnya. (mel/kyd)

Komentar

Rekomendasi