oleh

Penyelamatan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Saya sudah ke museum di banyak negara. Baru di Taipei ini melihat ramainya seperti di stasiun kereta. Di hari libur pula. Padahal harga karcisnya setara Rp 250.000. Antrean di loket begitu padat. Yang di sini. Pun yang di sana.

Bagi saya museum ini memang istimewa. Pun bagi siapa saja. Bukan saja isinya. Terutama kisah di balik museum itu. Bisa dibilang: semangat saya datang ke muesum ini sama dengan minat saya membaca novel ‘Peoples of the Book’. Bagaimana kisah penyelamatan benda kuno. Yang amat heroik. Penuh tragedi. Mengancam jiwa.

Dalam hal ‘People of the Book’ yang diselamatkan adalah kitab suci. Milik orang Yahudi. Dari ancaman pemusnahan. Oleh pihak gereja. Yang lagi menguasai Eropa. Pada abad ke 14. Betapa dramatik perjalanan buku itu. Yang penyelamat terakhirnya justru orang Islam. Di Bosnia. Yang mempertaruhkan keselamatannya.

Saya tahu novel itu sebuah fiksi. Tapi saya juga tahu penulisnya telah melakukan riset yang mendalam. Seperti novel ‘Bumi Manusia’-nya Pramudya Ananta Tour. Fiksi. Tapi cerita sebenarnya tidak jauh dari itu. Saya meyakininya.

Kisah di balik museum di Taipei itu tidak kalah seru. Cuma belum ada yang menulis novel tentangnya. Atau membuat filmnya. Saya tahu hanya dari literatur. Atau bahasa tutur. Yang diketahui secara luas. Di Taiwan. Pun di Tiongkok. Lengkap dengan bumbu-bumbunya.

Komentar

Rekomendasi