oleh

LBH Bandarlampung Melawan Lupa Tragedi Talang Sari

Radarlampung.co.id – Memperingati 30 tahu tragedi Talang Sari, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Bandarlampung menggelar diskusi dan dialog untuk melawan lupa tragedi berdarah tersebut, Jumat (8/2).

Dalam diskusi itu turut hadir Jurnalis Investigasi Amerika Serikat Alan Nairn dan Amir yang merupakan salah satu keluarga korban tragedi pelangaran Hak Asasi Manusia (HAM) itu.

Peristiwa yang terjadi pada 7 Februari 1989 lalu di dusun yang kini berganti Subing Putra Tiga karena warga dusun tersebut dituduh akan mendirikan negara Islam Indonesia atau N-II. 

Berdasarkan data Kontras, mencatat orang hilang akibat kekerasan dalam tragedi itu 218 orang, 550 orang dibunuh tanpa proses hukum, dan 35 orang ditangkap begitu saja.

Atas kejadian itu, Amir yang merupakan guru sekolah dasar merasa hak-hak nya dicabut dengan adanya stigma tahanan politik.

“Saya meresa hak-hak sebagai warga negara dan seorang guru tidak terpenuhi karena melekatnya stigma tapol tadi pada diri saya dan keluarga korban lain nya, dan itu membuat kami selalu sedih jika mengingatnya,” kata Amir.

pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Gubernur, Fahrizal Darminto menanggapi bahwa sikap diskriminasi yang terjadi di desa tersebut akan segera ditiadakan dan semua warganya akan mendapatkan hak sama seperti warga lainnya.

“Maka dari itu kami berjanji hal tersebut tidak akan terulang kembali, serta akan memulai pembangunan infrastruktur agar hak-hak warga talang sari sekalian bisa mendapatkan hak yang sama seperti yang lain nya” pungkasnya.(mel/kyd)

Komentar

Rekomendasi