oleh

Bahan Makanan Sumbang Deflasi Tertinggi Kota Bandarlampung

RADARLAMPUNG.CO.ID – Februari 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat secara keseluruhan bahwa Kota Bandarlampung mengalami deflasi sebesar 0,33 persen. Di mana, kelompok bahan makanan menyumbang deflasi tertinggi yakni 2,40 persen.

Kepala BPS Lampung Yeane Irmaningrum memaparkan, deflasi yang dialami Kota Bandarlampung dikarenakan adanya penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 135,47 pada Januari 2019 menjadi 135,02 di Februari 2019.

“Dari tujuh kelompok pengeluaran, dua kelompok mengalami deflasi atau penurunan indeks di Kota Bandarlampung. Yakni, kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 2,40 persen, serta kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan 0,11 persen,” kata Yeane di kantornya, Jumat (1/3).

Ia menambahkan, adapun beberapa komoditi yang dominan memberikan andil dalam pembentukan deflasi bulan Februari 2019 di antaranya, cabai merah 0,18 persen, beras (0,13), bawang merah (0,08), jeruk (0,07), telur ayam ras (0,06), bawang putih (0,02), jengkol (0,02), bensin (0,02), minyak goreng (0,01), dan cabai rawit (0,01).

Sementara itu, Inflasi Kota Bandarlampung di bulan yang sama menempati peringkat ke-52 dari 82 kota yang diamati perkembangan harganya. Berdasarkan jumlah tersebut, sebanyak 13 kota mengalami inflasi dan 69 kota mengalami deflasi.

“Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,98 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kendari sebesar 0,03 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 2,11 persen, sedangkan deflasi terendah terjadi di Serang sebesar 0,02 persen,” tandasnya.

Berdasarkan penghitungan inflasi tahun kalender (point to point), Kota Bandarlampung mengalami deflasi sebesar 0,10 persen dan inflasi year on year (yoy) adalah sebesar 1,33 persen. (ega/kyd)

Komentar

Rekomendasi