oleh

Massa Tuntut Berikan Cuti Haid Pada Pekerja Perempuan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day (IWD) yang jatuh setiap 8 Maret, Women’s March Lampung mengadakan pawai aksi kreatif. Kegiatan berlangsung hari ini (8/3), pukul 08.00-10.45 WIB, dengan titik kumpul di Toko Buku Fajar Agung Tanjungkarang dan berakhir di Tugu Adipura.

Pawai tersebut diikuti ratusan masyarakat berbagai kalangan yang pesertanya menggunakan pakaian kebaya bagi wanita dan sarung bagi aki-laki.

Selama pawai dan kegiatan peserta membawa beragam jenis poster tuntutan. Dalam tuntutan ini yang menjadi fokus Women’s March Lampung di antaranya adalah “Sahkan RUU P-KS”, “Tolak Kriminalisasi Aktivis HAM”, “Hentikan Kekerasan dan Pelecehan Seksual”, serta “Berikan Cuti Haid Pada Pekerja Perempuan sesuai UU No.13 th 2003 pasal 81 (3)”.

Dilanjutkan orasi publik dari beberapa perwakilan organisasi salah satunya Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung yang juga menyinggung soal pelecehan seksual yang massive terjadi di Lampung akhir-akhir ini. Ada pula SP Sebay Lampung berorasi untuk mencabut Kepment 260 tahun 2015 yang dinilai diskriminatif terhadap buruh migran.

Setelah orasi, disusul pembacaan puisi yang bercerita dan bertujuan untuk korban pelecehan seksual di UGM, UIN Radin Intan Lampung, dan korban pelecehan seksual lainnya.

Rizky Gita Ramadhani selaku sposkesperson Women’s March Indonesia-Lampung mengatakan, ini merupakan gerakan bersama perempuan tuntut ruang hidup yang demokratis, sejahtera, setara, dan bebas kekerasan yang juga merupakan bentuk dukungan IWD.

“Kami menyuarakan membantu mengurangi angka pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dan terciptanya ruang yang aman dan nyaman untuk perempuan di Lampung. Kami menyuarakan hak suara perempuan yang tak terdengar, khususnya bagi pelaporan yang masih menganggap kasus pelecehan seksual hal sepele,” sesalnya.

“Kami meminta pembebasan hak otoritas tubuh dan pakaian. Karena pakaian perempuan tidak menjadi dasar kasus perkosaan berasal, merujuk pada mahasiswi UIN RIL yang dilecehan secara seksual oleh seorang dosen kampusnya,” terang wanita yang akrab disapa Tata kepada radarlampung.co.id.

Pada 2019 ini, IWD melalui website resminya mengangkat tema #BalanceforBetter. Menurut Ketua Women’s March Lampung Khevin, hal ini dapat menjadi titik terang bahwa adil tidak akan pernah diskriminatif.

“Adil artinya membebaskan pilihan individu sesuai porsi diri yang ia punya. Contoh kecil, di WM Lampung sendiri, ketua tahun ini adalah seorang pria. Hal ini membuat orang lain terheran-heran “mengapa pria?”. Karena Tuhan menciptakan bukan hanya perempuan, tetapi ada laki-laki dan gender lainnya. Sejatinya feminis adalah kesetaraan, bukan melebihi pria, bukan pula di bawah pria,” ujarnya.

Komentar

Rekomendasi