Pendidikan Inovasi MKKS SMP Bandarlampung Sesuaikan Era Digitalisasi

Inovasi MKKS SMP Bandarlampung Sesuaikan Era Digitalisasi

Kepala Disdikbud Bandarlampung Daniel Marsudi (kemeja putih), Ketua MKKS SMP terpilih, Badrun (sebelah kanan kadis) berfoto bersama kepengurusan MKKS SMP Periode 2019-2022. Foto Dok. Pribadi/Radarlampung.co.id

Radarlampung.co.id – Secara aklamasi, Dr. M. Badrun, M.Ag, terpilih kembali sebagai Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Bandarlampung periode 2019-2022. Hal itu berdasarkan hasil Musyawarah Daerah VII MKKS SMP di Hotel Aston Bandarlampung, Rabu (13/3).

Kepala SMPN 2 Bandarlampung itu saat ditemui Radarlampung.co.id di ruang kerjanya mengaku berterima kasih kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bandarlampung, terlebih kepala SMP se-Bandarlampung yang telah memberikan kepercayaan kepada dirinya. 

Dalam kepengurusan selanjutnya, Badrun menyatakan akan meningkatkan mutu pendidikan tetap mengacu pada regulasi pemerintah pusat, terkait tupoksi kepala sekolah PP No. 19 tahun 2017, Permendikbud No. 6 tahun 2018, Permendikbud No. 15 tahun 2018.

Dalam berinovasi, katanya, dirinya akan menyesuaikan era revolusi industri 4.0 yang dipahami sebagai era digitalisasi. “Kita sesuaikan pula dengan kurikulum 2013, seorang pendidik sebagai fasilitator sehingga peserta didik memiliki 4C, creative thinking, colaborative thinking, critical thinking dan confirmation thinking,” imbuhnya. 

Kepala sekolah yang memiliki tugas sebagai manajer, supervisi, dan enterpreneurship (kewirausahaam) harus membawa sekolah yang dia pimpin menjadi lebih baik lagi kedepannya. 

Sebagai manajer, kepala sekolah harus mengatur lembaganya mutu sekolah dengan menyesuaikan dengan 8 standar nasional pendidikan. “Akan ada tim penjaminan mutu sekolah. Sehingga sekolah harus membuat penjaminan mutu sesuai dengan Permendikbud No. 28 tahun 2016,” jelasnya. 

Sebagai suvervisi, tidak hanya melakukan penilaian atas bidang akademik guru, tetapi juga diharuskan mensupervisi seluruh unit kegiatan yg ada di sekolah. 

Memiliki kemampuan, katanya, kewirausahaan. Bagainana, kepala sekolah membuat inovasi, improvisasi dan membuat program unggulan sekolah. 

“Hal itu dilakukan untuk meningkatkan trash (kepercayaan) dan akuntabilitas sekolah, sehingga mempunyai brand sesuai dengan yang diunggulkan atau karakter merek,” kata dia. 

Tak sebatas itu, kepala sekolah harus mampu mengungulkan budaya lokal sekolah masing-masing. Tuntutan ke depan juga, diharapkan siswa tidak lagi “kamu mau jadi apa” tapi “kamu bisa menciptakan apa buat negara ini”.

Baca :   18 Ribu Siswa Lulus SD, Disdikbud Ingatkan Soal Zonasi

“Kedepan, sekolah bisa menyediakan sumber belajar berbasis website atau pun aplikasi, contohnya e-book, selain itu sistem hadir siswa juga dapat dilacak menggunakan fingerprint dan guru atau tenaga pendidik dinilai melalui rapor hasil kinerja,” tandasnya. (apr/kyd)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini