oleh

Buruh Migran Hilang di Abu Dhabi, Lurah Hadimulyo : Kita Tak Tahu Menahu

radarlampung.co.id-Juriah (29), buruh Migran asal Kota Metro yang hilang di Abu Dhabi masih belum jelas keberadaannya. Buruh Migran asal Kelurahan Hadimulyo Barat itu hilang kontak sejak 13 Maret lalu.

Pihak kelurahan menyatakan Juriah tidak terpantau berangkat ke luar negeri. “Kita bingung apa yang mau kita bantu. Kalau kita mau ngebantu, apa yang harus kita bantu?,” kata Herwan Efendi, Lurah Hadimulyo Barat saat ditemui di kantornya, Kamis (4/4).

“Karena terus terang aja dia memang bukan berangkat dari sini, sudah itu kita tidak tahu-menahu. Begitu setelah ada masalah ini, baru kita tahu,” jelas Herwan.

Disinggung bahwa keluarga Juriah yang tidak paham cara mengurus, Herwan mengaku pihaknya siap mendampingi keluarga Juriah ke pihak Dinas terkait. “Menurut saya, dia tinggal ngubungin aja pamong yang ada di bawah, RT atau RW. Sesudah itu apa langkahnya, apa nemuin kami dulu, artinya nanti kita sama-sama kita anterin ke Dinas,” tambahnya.

Keluarga Juriah, kata Herwan, sampai saat ini belum pernah ke Kelurahan untuk meminta tolong. “Sampai saat ini keluarganya menemui saya aja enggak. Saya terus terang aja, hari apa kemarin itu RT nya yang ngasih tahu ke saya,” lanjut Herwan.

“Pihak Dinas juga belum pernah ngontek ke kami persoalan ini. Makanya saya sendiri bingung gitu lho, apa langkah kami. Karena dari pihak sendiri belum pernah mengutarakan,” tukasnya.

Diberitakan sebelumnya, pasangan suami istri Jamiun (61) dan Ibu Kenni (51) kebingungan. Warga Kelurahan Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro ini hilang kontak dengan Juriah (29), putri mereka yang merantau ke Abu Dhabi Uni Emirat Arab.

Juriah yang menjadi buruh migran hilang kontak dengan keluarga sejak 13 Maret lalu.

Menurut Kenni, Ibu Juriah saat ditemui di kediamannya, Selasa (26/3) anaknya mengaku mendapat kekerasan dari pihak agen di penampungan.

“Sejak tanggal 13 itu sudah tidak bisa dihubungi. Tadinya sms ke adiknya, dek, teteh sekarang kembali kekantor, teteh mendapat kekerasan di kantor. Teteh ditempeleng, dipukul,” katanya sambil meniru pesan dari Juriah.

Kemudian Juriah sempat menelpon keluarganya. Dan dari sambungan telepon Juriah mengaku akan dikembalikan ke kantor tempat penampungannya selama di Abu Dhabi.

“Terus yang terakhir ngebel, dia itu ngomong gini Bu minta doanya sama bapak dan ibu. Saya diambil sama majikan lagi, tapi nanti sore dikembalikan lagi ke kantor (Agen). Tapi orang kantor ancamannya kalau kamu balik lagi ke kantor ini, kepala jadi di bawah kaki di atas. Setelah itu sudah tidak ada kabar lagi sampai sekarang,” jelasnya.

Juriah sendiri, lanjut Kenni, tidak menceritakan secara pasti mengapa dirinya diancam dan mengaku dipukul. Juriah menurut Kenni sudah 9 bulan menjadi buruh migran.

Sementara pihak agen yang memberangkatkan dari Indonesia, sampai saat ini tidak bisa dihubungi. Kenni mengaku, dirinya tidak tahu untuk meminta bantuan kepada siapa-siapa.

“Ibu mah orang tua, gak ngerti mau minta bantuan kepada siapa-siapa, ibu nggak ngerti,” lirihnya.

Ia hanya berharap agar sang anak bisa kembali pulang ke pangkuannya. Sementara untuk pulang, Juriah harus membayar uang sebesar Rp50 juta kepada pihak agen.

“Kalau kamu mau pulang bayar denda 50 juta. Anak saya ngomong gitu, tolong bu carikan duit Tp50 juta biar saya ini pulang. Badan saya kurus dipukulin terus,” katanya dengan nada lirih.

Juriah terakhir berkomunikasi dengan pihak keluarga, harus menggunakan HP milik teman-teman kerjanya. Sebab kemungkinan HP milik Juriah, kata kenni, disita oleh pihak agen.

Sebelum bekerja di Abu Dhabi, Juriah yang meninggalkan dua anak masing-masing 7 dan 9 Tahun pernah bekerja di Bahrain selama 5 tahun.

Kenni bercerita, bahwa sang anak sudah ditinggal sang suami sejak putri bungsu mereka lahir 8 tahun lalu.

”Dia dulu di Bahrain 5 Tahun gak ada apa-apa, gak ada kekerasan. Ini di Abu Dhabi yang mengalami kekerasan,” katanya. (aiw/rnn/wdi)

Komentar

Rekomendasi