oleh

Kekurangan Surat Suara, Akademisi Unila Pertanyakan Manajemen DPT

Radarlampung.co.id – Banyak Pemilih di Bandarlampung yang tak bisa menyalurkan suaranya di Pemilu 2019 karena kurangnya surat suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Ironisnya, kebanyakan pemilih yang tidak mencoblos itu mengaku sudah masuk dalam DPT (daftar pemilih tetap). Terlebih, KPU mengaku telah menyiapkan surat suara sesuai jumlah DPT ditambah 2 persen.

Temuan ini terjadi mulai di Wayhalim Langkapura, Kampung Sawah dan beberapa daerah lainnya. Bahkan, hingga pendaftaran pencoblosan ditutup pukul 13.00 WIB, Rabu (17/4), masih banyak ditemukan kekurangan.

Akademisi Universitas Lampung (Unila) Roby Cahyadi mempertanyakan manajemen daftar pemilih tetap (DPT) yang dinilai tidak serius dan Pemilu hanya sekedar proyek. ”Dilokasi saya dan beberapa sampel TPS lain rata-rata yang tidak dapat form C6, bahkan hanya 15 sampai 20 persen dari total pemilih. Bahkan ada beberapa yang sudah pindah dan meninggal masih dapat form C6,” sebut Roby, Rabu (17/4).

Mengenai hal ini, Roby menilai persoalan DPT ternyata menjadi kanker pemilu. Karena persoalan ini selalu terjadi disetiap pelaksanaan Pemilu maupun Pilkada.

”Ternyata masalah DPT ini kanker pemilu selalu ada setiap pelaksanaan. Beberapa tempat juga masih terdapat praktek politik uang, serangan fajar, atau serangan masa tenang. Kalau persoalan ini silahkan laporkan atau bawaslu yang mencari info itu sebagai temuan,” tambahnya.

Memang untuk persoalan DPT, Roby menyebut harusnya KPU melakukan coklit (pencocokan dan penelitian) data pemilih untuk tes validasi datanya. Karena animi pemilih pada pemilu 2019 lebih tinggi dibandingkan pelaksanaan terakhir 2018 pada Pilgub Lampung.

“(Kekurangan surat suara) ada, tapi tidak separah sekarang, saya melihatnya karena dilakukan secara bersamaan untuk lima pemilihan, jadi animo pemilih tinggi. Tapi di beberapa TPS hasil cek saya partisipasinya 50 sampai 66 %. Banyak ditolak karena tidak punya e-KTP. Untuk itu harusnya pendataan dari dulu tidak hanya ditahun politik saja,” tandasnya. (rma/kyd)

Komentar

Rekomendasi