Berita Lainnya WHO Luncurkan Vaksin Malaria Pertama

WHO Luncurkan Vaksin Malaria Pertama

Radarlampung.co.id – Badan Kesehatan Sedunia (WHO) meluncurkan vaksin malaria pertama di dunia. Proses imunisasi itu menggunakan satu-satunya vaksin berlisensi yang tersedia untuk mengatasi penyakit yang disebarkan lewat nyamuk itu.

Dr. Pedro Alonso di Badan Kesehatan Sedunia WHO mengatakan, Malawi, Ghana dan Kenya akan mulai memberikan vaksin kepada anak-anak dalam beberapa minggu mendatang.

“Ini adalah vaksin pertama terhadap parasit penyebab malaria. Parasit merupakan organisme yang sangat rumit, jauh lebih rumit dibanding virus atau bakteri. Itulah sebabnya dibutuhkan waktu 30 tahun untuk mengembangkan vaksin pertama ini,” kata Pedro, Selasa (7/5).

Meski vaksin itu hanya melindungi sekitar sepertiga mereka yang diimunisasi, mereka yang mendapat suntikan kemungkinan hanya akan menderita kasus malaria yang lebih ringan.

Malaria menewaskan sekitar 435.000 orang setiap tahunnya di Afrika, dan mayoritas penderita yang tewas berusia di bawah lima tahun.

“Vaksin ini tidak sempurna namun berpotensi menyelamatkan ribuan jiwa,” kata Alister Craig, pakar biologi dari Liverpool School of Tropical Medicine.

Ia mengatakan, mengimunisasi anak-anak yang paling rawan terkena serangan pada musim malaria, bisa mengurangi resiko sakit atau sekarat akibat penyakit tersebut. Vaksin yang dinamakan Mosquirix itu diproduksi GlaxoSmithKline (GSK) dan disetujui Badan Kedokteran Eropa pada 2015.

“Uji coba sebelumnya menunjukan, vaksin itu 30% efektif pada anak-anak yang mendapatkan empat dosis, namun perlindungan itu memudar seiring waktu. Efek samping yang dilaporkan termasuk nyeri, demam, dan kejang-kejang,” terangnya.

Selain vaksin malaria, para ilmuwan kini juga sedang menguji vaksin untuk HIV dan sedang bekerja keras membuat vaksin untuk melawan kanker. Sementara uji coba vaksin HIV sedang dilakukan di Afrika Selatan, termasuk penelitian untuk mengembangkan vaksin HIV berbasis antibody.

Spesialis HIV di National Institutes of Health, Carl Dieffenbach mengatakan, obat-obatan anti-AIDS sudah membuat perbedaan besar dalam mengendalikan wabah tersebut.

“Kami memposisikan vaksin sebagai prioritas, bukan hanya untuk menghentikan wabah. Tetapi untuk benar-benar menyudahinya,” ujar Dieffenbach.

Dunia yang bebas dari penyakit-penyakit ini adalah dunia di mana orang dapat membesarkan anak-anak yang sehat, memiliki kehidupan yang baik dan keluar dari kemiskinan. Ini akan menjadi dunia di mana bukan saja warganya yang sejahtera, tetapi juga negaranya. (fin/kyd)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini