Ekonomi Bisnis Ekspor April Turun, Impor Naik

Ekspor April Turun, Impor Naik

BPS Lampung memaparkan data Tingkat Penghunian Kamar (TPK) per Januari 2019, Jumat (15/3). Foto Elga Puranti/radarlampung.co.id

Radarlampung.co.id – Neraca perdagangan luar negeri provinsi Lampung di bulan April 2019 mengalami defisit sebesar USD200,89 juta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Lampung, hal ini lantaran nilai Ekspor Lampung yang terus menurun.

Kepala BPS Lampung Yeane Irmaningrum menyebut, nilai ekspor Lampung April 2019 mencapai USD196,49 juta. Jumlah ini mengalami penurunan sebeaar USD23,57 juta atau turun 10,71 persen, dibandingkan ekspor bulan Maret 2019 yang tercatat USD220,06 juta.

Adapun lima golongan barang utama ekspor Lampung di antaranya, lemak dan minyak hewan/nabati; batu bara; kopi, teh, dan rempah-rempah; bubur kayu/pulp; dan olahan dari buah-buahan/sayuran.

“Nilai ekspor April 2019 ini juga, jika dibandingkan dengan April 2018 yang tercatat USD253,23 juta mengalami penurunan sebesar USD56,74 juta atau turun 22,41 persen,” kata Yeane, Rabu (15/5).

Menurut Yeane, penurunan ekspor April 2019 terhadap Maret 2019 terjadi pada lima golongan barang utama. Yakni, batu bara turun 38,48 persen; bubur kayu/pulp turun 31,23 persen; serta lemak dan minyak hewan/nabati turun 23,19 persen.

“Kemudian olahan dari buah-buahan/sayuran turun 12,02 persen; dan kopi, teh, rempah-rempah turun 10,04 persen,” tambahnya.

Sebaliknya, nilai impor Lampung di bulan April 2019 juga tercatat lebih tinggi daripada ekspor April 2019, yakni mencapai USD 397 juta dolar. Jumlah ini bahkan mengalami peningkatan sebesar USD250,89 juta dolar atau naik 171,26 persen, dibanding Impor Maret 2019 yang tercatat USD146,50 juta.

“Nilai impor April 2019 tersebut juga lebih tinggi USD169,59 juta atau naik 74,45 persen jika dibanding dengan April 2018 yang tercatat USD227,80 juta,” tandasnya.

Peningkatan terjadi pada empat golongan utama barang impor di bulan April 2019. Masing-masing binatang hidup naik 51,88 persen; pupuk naik 48,42 persen; ampas/sisa industri makanan naik 47,75 persen; dan mesin-mesin/pesawat mekanik naik 38,07 persen.

“Sedangkan untuk golongan barang impor seperti gula dan kembang gula, mengalami penurunan sebesar 4,51 persen,” tandasnya. (Ega/kyd)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini