oleh

Rycko Singgung 6 Persoalan Insfrastruktur di Bandarlampung

RADARLAMPUNG.CO.ID – Rycko Menoza S.Z.P. yang hadir dalam diskusi menyoal konsep Kota Bandarlampung yang digelar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bandarlampung, Minggu (19/5), menyinggung persoalan infrastruktur di Bandarlampung.

Rycko yang digadang-gadang bakal meramaikan kontestasi Pilwakot 2020 ini membeberkan enam persoalan yang masih ditemui di Bandarlampung.

Keenamnya meliputi infrastruktur pendukung transportasi, pengelolaan drainase dan sampah, trotoar, ruang terbuka hijau (RTH), pantai hiburan, dan pasar tradisional.

”Dari banyaknya masalah, saya menyoroti satu sisi dari apa yang saya rasakan sebagai warga Bandarlampung, khususnya infrastruktur. Menurut saya enam persoalan inilah yang kerap dirasakan di Bandarlampung,” sebut Rycko.

Dirinya menilai, pembangunan flyover maupun underpass di beberapa titik tidak memberikan pengaruh. Justru hanya memindahkan kemacetan. Padahal, kata dia, idealnya pembangunan tersebut dibangun untuk menghindari kemacetan.

”Tapi nyatanya meski flyover dibangun namun akses di bawahnya tidak juga lancar. Contohnya flyover pramuka, tetap menimbulkan kemacetan lainnya. Flyover MBK di atasnya lancar namun justru di bawahnya muncul kemacetan. Apalagi sore-sore saat Ramadan ini, mudah ditemui,” sebutnya.

Hal itu menurut Rycko bisa ditekan bila sebelum pembangunan dilakukan kajian lebih dahulu dengan akademisi serta pakar dari perguruan tinggi. Dan pemerintah setempat harus melakukan kajian teknis di bidangnya.

”Karena tidak semua kepala daerah ahli semuanya. Hal-hal seperti ini harus diserahkan ke ahlinya,” sebutnya.

Persoalan lainnya terkait drainase dan sampah. Di mana, menurut dia hal ini memang menjadi salah satu persoalan di Bandarlampung, padahal dari segi geografis Bandarlampung tidak termasuk wilayah rendah.

”Masalahnya tak lain karena saluran tersumbat, gaya hidup masyarakat yang tidak membuang sampah pada tempatnya dan jelas pembangunan tidak sesuai. Harusnya di daerah dengan aliran deras tidak boleh ada pembangunan atau diungsikan penduduknya atau harusnya dibuat rumah susun,” lanjut Rycko.

Kemudian soal trotoar, Rycko menyesalkan saat ini kondisi trotoar di Bandarlampung sudah banyak rusak. Keramik yang diperkirakan dibangun 2011-2012 banyak sudah pecah, bahkan tidak terlihat jalur khusus bagi penyandang disabilitas.

”Harusnya trotoar ini untuk lari enak, saya hampir setiap hari jogging tapi kalau mau di trotoar kendalanya itu takut, was-was, boro-boro untuk lari untuk jalan nggak ada. Jadi kami lebih cari jalan yang berlawanan arus untuk jogging,” sambungnya.

Soal RTH juga menjadi bahasan Rycko, karena menurutnya RTH di Bandarlampung tidak lebih banyak dibandingkan kabupaten lainnya. Dia pun menyebut tata kota di depan kantor Pemerintah Kota Bandarlampung tidak tertata dengan rapih. Padahal idealnya di negara lain, di depan kantor pemerintahan harus berkondisi baik.

Kemudian pemandangan ambulans yang berjejer di tengah Tugu Adipura dinilai tidak bagus. Dia lebih mengarahkan ambulans tersebut dipindahkan ke puskesmas agar bisa digunakan langsung oleh masyarakat.

Terkait pasar tradisional, menurutnya hampir tidak ada pasar layak. “Minggu lalu saya ikut ke pasar gudang lelang, ya kondisinya seperti itu mulai parkir hingga masuk kalau nyaman tidak lah ya. Kemudian terkait pasar kumuh juga banyak pembangunan belum slesai, becek. Harus ditata biar bersih,” tandasnya. (rma/sur) 



Komentar

Rekomendasi