Ekonomi Bisnis Berawal dari Industri Rumahan, Kembangkan Tapis hingga Tembus Eropa

Berawal dari Industri Rumahan, Kembangkan Tapis hingga Tembus Eropa

503
Nurhadiwati dengan koleksinya di ruang tamu yang disulap menjadi showroom. Foto Bernes Prayoga/radarlampung.co.id

radarlampung.co.id-Semangat dan ketekunan kunci kesuksesan. Komitmen itulah yang dipegang pasangan suami istri Bayu Sunuaji dan Nurhadiwati saat pertama kali memulai usaha tapis dengan brand Aida Tapis, 2015 silam.

Ide mengembangkan kain tapis dan motif khas tapis berawal ketika Nurhaidawati menjadi reseller produk tas aksesoris. Produk dan aksesoris itu kemudian dirombak menjadi produk yang berbeda dengan ciri khas tapis. Bertahap, Nurhadiwati dan Bayu merintis usahanya sendiri. Dengan memanfaatkan ruang tamu di bagian depan rumah yang disulap sebagai bengkel kerja dan showroom, UMKM berbasis kerajinan tapis ini mulai berkembang.

Produk-produk keduanya mulai dipercaya masuk ke gerai-gerai besar di Lampung. Menurut Bayu, butuh ketelitian dan kecermatan dalam mengolah produk berbasis tapis. Dulu pasutri ini membatasi produk pada tas saja. Tapi kini produk yang dihasilkan sudah beragam. Harga produk juga disesuaikan dengan tingkat kesulitan pembuatan.

“Sekarang produk yang bisa disediakan sudah beragam. Mulai dari kain tapis, baju, tas, sepatu hingga kopiah,” katanya saat ditemui di gerai mereka di Perum Bukit Kemiling Permai Blok J nomor 98, Kemiling Bandarlampung, Selasa (18/6).

Ditambahkan Nurhadiwati, keduanya punya alasan lain mengapa mengembangkan tapis. Menurutnya, tapis punya ciri khas yang tak dimiliki daerah lain. Karenanya, tapis punya nilai ekonomis tinggi. Dirinya sepakat dengan Bayu bahwa menggarap kerajinan tapis harus teliti dan rapih. “Karena produk ini juga kan jadi ciri khas Lampung,” katanya.

Ketekunan keduanya menggarap produk tapis mulai menampakkan hasil. Produk tapis yang dihasilkan dari rumah ini diam-diam telah merambah Belanda, Singapura, Hongkong dan Malaysia. Tak hanya itu, pada 2018 lalu Aida Tapis yang digarap pasutri ini berhasil membukukan omset cukup lumayan, yakni tembus Rp600 juta.  “Alhamdulillah penerimaan konsumen di luar negeri terhadap Tapis Lampung baik,” ucap Bayu.

Ke depan, Bayu dan Nurhadiwati bertekad membangun kursus dan pelatihan khusus tapis. Kursus ini nantinya diharakan bisa menjaring minat para anak muda. “Jadi ikon budaya tanah Lampung ini dapat terus terwarisi dan dikembangkan,” tutupnya. (cw1/wdi)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini