oleh

Ribuan Pekerja PT BMI Resah Takut Kehilangan Mata Pencaharian

Beredar Isu Tak Sedap yang Dinilai Hoaks

RADARLAMPUNG.CO.ID – Rasa was-was sedang membuntuti pekerja PT Bumi Menara Internusa (BMI), Jl. Ir. Sutami, Desa Lematang, Tanjungbintang, Lampung Selatan. Mereka khawatir oprasional perusahaan tersebut terganggu lantaran adanya aksi demo yang hampir sebulan ini berlangsung.

Aksi dimotori organisasi yang mengatasnamakan Federasi Serikat Buruh Makanan dan Minuman (FSBMM). Di mana, FSBMM mengaku sedang mendampingi Serikat Pekerja Bumi Menara Internusa (SPBMI). Jumat (28/6) pagi menjelang siang aksi yang dinilai perusahaan tak sesuai ketentuan hukum itu kembali terulang.

Ketua SPBMI Apriyanto dalam orasinya menuturkan, aksi digelar dengan tuntutan agar pekerja di perusahaan tersebut berstatus pegawai tetap. “Penuhi tuntutan kami, maka kami akan berhenti menggelar aksi,” pekiknya dari luar pagar perusahaan.

Sementara, aksi tersebut tak sepenuhnya mendapat tanggapan pro dari sejumlah pekerja. Bahkan, ada yang menilai aksi tersebut justru mengganggu aktivitas para pekerja dan juga tentunya oprasional perusahaan serta ketertiban umum di lingkungan kerja.

“Tak jarang kami pekerja yang masih ingin tetap bekerja mendapat intimidasi. Kami jadi harus berangkat jauh lebih pagi untuk menghindari aksi,” ujar RS (27), salah satu pekerja yang justru kontra atas aksi tersebut.

Dirinya pun berharap agar aksi yang terjadi segera terhenti. “Harapan kita minta perdamaian, yang di luar (massa pendemo) harus mengerti apa yang kita rasakan. Jujur kami khawatirkan demo mengancam menutup perusahaan. Pada dasarnya kenyamanan tergantung kita sendiri. Nama baik perusahaan yang sedikit ternodai harapannya bisa baik kembali,” ucapnya.

Senada diungkapkan SM (28), pekerja lainnya yang memilih tetap bekerja. “Padahal dengan sistem kerja sesuai peraturan perusahaan saat ini kami pun sudah puas, enjoy. Justru pendapatan bisa lebih besar dari UMK kalau kita rajin,” ujarnya.

Turut diterangkan, jumlah pekerja yang pro kebijakakan perusahaan jauh lebih banyak dibanding yang kontra dan mengikuti aksi demo. Diterangkan, ada sekitar seribu pekerja yang tetap bekerja di perusahaan yang bergerak di pengolahan seafood tersbut. Sementara yang menolak dan menggelar aksi hanya berkisar puluhan.

“Kalau yang tercatat terakhir yang menolak kebijakan perusahaan sekitar 85 orang, tapi yang benar-benar pekerja sini hanya sekitar 20 orang. Sedangkan kami yang merasa enjoy tetap bekerja ada sekitar seribu orang,” ucapnya.

Ya, kekhawatiran para pekerja kian memuncak lantaran mereka mendapati sentilan bahwasanya massa aksi bakal memboikot para bayer (konsumen perusahaan). Bahkan diduga melakukan sejumlah aksi mengarah provokasi yang mengarah ke hal menyudutkan perusahaan. “Yang kami dengar-dengar begitu,” tambah SM.

Namun, yang cukup disayangkan, sejatinya akar permasalahan yang melatarbelakangi aksi bukan lantaran tuntutan status kepegawaian. Melainkan massa menuntut perusahaan agar membebaskan salah satu pekerja yang tersangkut urusan hukum pasca bermasalah dengan perusahaan.

Saat dikonfirmasi, manager HRD PT BMI Nukman Ansah mengaku telah membawa permasalahan ini ke Disnakertrans Provinsi Lampung guna proses mediasi. Dan, mediasi dimaksud telah berlangsung Jumat (21/6).

Yang cukup membuat perusahaan kaget, ternyata benar aksi digelar bukan semata tuntutan status kepegawaian. Melainkan massa meminta agar perusahaan membebaskan mantan salah satu pekerja yang tersangkut masalah hukum.

“Pembahasan di Disnaker provinsi kemarin benar-benar mengarah ke tuntutan agar perusahaan membebaskan oknum (RD) yang saat ini sedang ditahan polisi karena masalah hukum,” ujar Nukman.

Komentar

Rekomendasi