Berita Utama Menata Kopi Lampung (Perspektif Konsumsi)

Menata Kopi Lampung (Perspektif Konsumsi)

Asrian Hendi Caya, Peneliti Pusiban, Akademisi Universitas Lampung. Foto ist

Oleh Asrian Hendi Caya*

Kopi merupakan salah satu identitas Lampung, utamanya kopi robusta. Berkembangnya perkebunan kopi karena menjadi andalan petani. Kopi mampu memberikan kesejahteraan kepada petani. Pertama, produktivitas cukup tinggi dan harga menjanjikan.  Wajar bila kemudian Vietnam belajar budidaya kopi ke Lampung. Sepertinya gambaran ini tinggal kenangan.

Saat ini petani kopi mengalami kesulitan karena produktivitas mulai turun dan harga semakin tidak stabil dan cenderung turun. Belakangan ini harga komoditas di pasar dunia belum membaik sejak krisis ekonomi global. Padahal pasar ekspor menjadi tujuan utama. Akibatnya kondisi petani kopi belum juga pulih.

Namun ada sedikit harapan karena perubahan pola hidup sehingga minum kopi menjadi tren. Minum kopi (ngopi) menandai gaya hidup milenial. Café-café yang menawarkan kopi tumbuh menjamur menjadi tempat ngumpul dan bersosialisasi. Gengsi ngopi naik, harga minuman kopi pun ikut naik. Selanjutnya harga kopi ikut terangkat.

Dibalik harapan itu ada tantangan bagi petani kopi. Karena penikmat kopi menginginkan rasa kopi yang enak. Dan itu diperoleh dari prosesing kopi yang baik, mulai dari petik merah sampai pengeringan biji dan penyangraian membutuhkan keahlian khusus. Dalam hal ini petani sudah siap berubah dan teknik pengeringan dan penyangraian juga semakin baik, hanya saja daya serapnya masih rendah. Masih ada tantangan karena stigma bahwa minum kopi tidak sehat. Ada juga pandangan bahwa ngopi merupakan kebiasaan yang kurang baik sehingga tidak disarankan bagi anak-anak dan remaja. Mungkin saja ini dikaitkan dengan kedekatan minum kopi dengan merokok dan kebiasaan bergaul.

Kenyataan ini tercermin pada masih rendahnya konsumsi kopi perkapita. Konsumsi kopi perkapita Indonesia saat ini baru 1,4 kg. Sementara konsumsi kopi perkapita Singapura sebesar 4kg dan Malaysia sudah 5kg bahkan Finlandia mencapai 12kg. Meningkatkan konsumsi dalam negeri berarti meningkatkan permintaan kopi sehingga akan mendorong kenaikan harga kopi. Dengan jumlah penduduk yang besar maka kenaikan konsumsi akan berdampak besar pada penyerapan kopi dalam negeri. Bila konsumsi dalam negeri sudah besar dengan harga baik mengapa kita harus memaksakan impor kopi biji yang harganya belum menjanjikan.

Baca :   Kembangkan Bisnis Kopi Lampung, Damarian Bakal Gandeng Dewan Kopi

Artinya, harus ada upaya menggairahkan konsumsi kopi dalam negeri. Pemerintah Daerah diharapkan menjadi pelopor peningkatan konsumsi kopi Lampung. Cara yang paling sederhana adalah menjamu setiap tamu dengan menyajikan minuman kopi. Tentu harus kopi kualitas dan cita rasa yang baik. Setiap tamu dikenalkan kopi Lampung dan dijelaskan keunikan dan keunggulannya. Karena itu, setiap pejabat daerah baik provinsi maupun kabupaten adalah juru bicara kopi Lampung. Menu kantor dan pertemuan juga menyajikan kopi. Kedepannya setiap perusahaan juga melakukan hal sama dan hotel menyediakan wellcome drink berupa kopi dengan berbagai penyajian mulai dari yang lunak (soft) sampai yang berat.

Hal yang juga penting adalah melakukan edukasi kopi sehat. Ternyata minum kopi tidak buruk bagi kesehatan. Karena itu, kopi harus diolah secara baik dan disajikan secara sehat. Beberapa testimoni pada mereka yang bermasalah dengan lambung ternyata tidak bereaksi buruk. Bahkan ada yang berani minum kopi karena takut tidak bisa tidur. Hal ini juga tidak berpengaruh pada kesulitan tidur.

Kopi adalah buah. Dan buah mengandung banyak mineral yang baik untuk kesehatan. Karena itu, pengolahannya jangan sampai menghilangkan unsur mineralnya. Ketika unsur mineral masih ada maka kopi pun memunculkan cita rasa yang nyaman dilidah (tidak pahit sehingga memaksa penggunaan gula dan lain-lain).  Ternyata dalam beberapa kondisi, minum kopi dapat meningkatkan kesehatan. Karena kopi ikut memperbaiki bekerjanya organ tubuh. Pemulihan fungsi tubuh inilah yang menjadikan kopi menyehatkan. Ada yang menarik pada perbincangan di warkop WAW karena saling berbagi pengalaman mendapat manfaat kesehatan dari terapi kopi. Bahkan tidak jarang ditemui mereka yang sedang ngopi dalam rangka terapi, bukan untuk bersosialisasi apalagi gengsi.

Baca :   Soal Impor Kopi, DPRD Lampung Tunggu Hasil Penyelidikan Polisi

Kopi tidak harus selalu disajikan dalam bentuk minuman. Tapi kopi juga dapat muncul dalam berbagai jenis kuliner yang menggunakan cita rasa kopi sebagai identitasnya. Kegairahan ini juga harus ditumbuhkan pada jajan tradisional sehingga meningkatkan konsumsi kopi sekaligus memperluas usaha terkait dengan kopi. Pemerintah Daerah harus mengeluarkan kebijakan yang tidak membebani usaha yang tumbuh terkait dengan kopi baik berupa perizinan maupun pungutan. Dalam hal ini termasuk mendorong industri pengolahan kopi. Harus ada insentif yang diberikan kepada industri pengolahan kopi dan yang memanfaatkan olahan kopi.

Dengan demikian, justru kita harus mendorong ekspor dalam bentuk kopi olahan. Indikasi geografis beberapa kopi yang menonjol dapat diandalkan untuk ekspor kopi olahan. Survey UBS terhadap harga kopi menunjukkan bahwa harga kopi di Doha adalah yang termahal, yaitu US$6.4 per cangkir (okezone.com). Sementara harga kopi per cangkir di Kopenhagen sebesar US$6.24 dan Dubai sebesar US$5.7. Sedangkan di Jakarta seharga US$4.1. Bila kopi Lampung bisa masuk dalam pasar dunia dengan cita rasa yang unik dan bersaing serta mutu yang baik maka ini justru sangat menjanjikan bagi perkopian Lampung. Semoga…(*)

*Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan, Dekopi Lampung

 

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini