Hukum Kriminal Lampung Peringkat 4 Rentan Radikalisme

Lampung Peringkat 4 Rentan Radikalisme

98
Direktur BNPT Brigjend Hamli dan Kabid Agama dan Sosial Budaya FKPT Lampung Abdul Syukur saat diwawacarai di Gedung Business Learning Center FEB Unila, Selasa (20/8). FOTO MELIDA ROHLITA/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Lampung masuk urutan ke-4 daerah berpotensi rentan pengaruh Redikalisme. Beberapa kalangan diminta mencegah dari dalam, salah satunya di Kampus.

Hal itu dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) Brigjend Hamli saat diwanacarai setelah mengisi kegiatan dialog pelibatan civitas akademikan dalam pencegahan terorisme melalui forum koordinasi pencegaahan terorisme (FKPT) Lampung.

“Itu berdasarkan hasil riset BNPT tahun 2017 dan tahun 2018. Apalagi lagi belum lama ini terjadi penangkapan beberapa teroris di Lampung, yang merupakan pengembangan dari kasus terorisme di salah satu kampus di Riau,” katanya, Selasa(20/8) di gedung business learning center FEB Uviversitas Lampung.

Menurutnya, fenomena ini hendaknya menyadarkan seluruh pemangku kepentingan khususnya di perguruan tinggi, bahwa kampus dan sekitarnya dapat disasar kelompok radikal terorisme untuk memupuk intoleransi dan radikalisme yang sarat dengan ajaran dan ajakan kekerasan, bahkan dikuasainya dalam rangka mendukung aksi terorisme.

“Lemahnya pengawasan instansi terkait dan permisifnya pemangku kepentingan akan memberikan ruang gerak leluasa bagi kelompok radikal terorisme menduduki posisi-posisi dan tempat-tempat strategis di lingkungan lembaga pendidikan. Maka dibutuhkan perhatian seluruh pemangku kepentingan di lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi, bahwa terorisme senantiasa beradaptasi, semakin hari semakin bervariasi, baik dalam bentuk, metode, pelaku, dan sasaran,” terangnya.

Sementara itu, ditambahkan Kabid Agama dan Sosial Budaya FKPT Lampung Abdul Syukur bahwa hasil survey nasional BNPT memang Lampung berpotensi berkembangnya pengaruh faham dan aksi radikalisme. “Jadi itu salah satanya adalah kekurangan kesadaran hukum seolah-oleh mencegah radikalisme itu adalah tugas negara dan BNPT. Padahal tugas kita semua bahwa kita semua butuh aman dan manusia hidupnya harus jauh dari konflik, juga partisipasi masyakat yang masih rendah. Misalnya saja harus sensitif bagi tetangga yang kegiatanya mencurigakan,” ungkapnya.

Selain itu dirinya juga menjelaskan bahwa di Lampung sendiri ada beberapa hal untuk mencegah sekaligus melarang faham radikalisme masuk. Seperti rembuk pekon, anjau silau, dan lainya.

“Kegiatan silaturahmi seperti bertamu dan memuliakan tamu misalkan bisa dilakukan masyarakat Lampung untuk berdiskusi dan untuk mencegah bahwa di sekitar tempat tinggal mereka ada hal yang mencurigakan,” tandasnya. (mel/sur)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini