Hukum Kriminal Wawan Suhendra: Saya Korban Kebijakan Atasan!

Wawan Suhendra: Saya Korban Kebijakan Atasan!

248
Terdakwa Wawan Suhendra membacakan pledoi pada persidangan suap fee proyek infrastruktur pada Dinas PUPR Mesuji di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Kamis (15/8). FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Sekretaris Dinas PUPR Mesuji yang juga terdakwa suap fee proyek Wawan Suhendra menilai dirinya menjadi korban kebijakan atasan, yakni Najmul Fikri (Kadis PUPR Mesuji, red). Hal itu dikatanya saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Tanjungkarang, Bandarlampung, Kamis (22/8).

“Saya merasa tidak diberlakukan secara adil. Sedangkan pimpinan saya yakni Najmul Fikri masih melenggang enak di luar berkumpul dengan keluarga,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, nota pembelaan yang ia buat ini secara khusus mengungkapkan bagaimana perasaan yang mengganjal di hatinya. Sehingga bisa menjadi pertimbangan agar majelis hakim bisa memutus perkara ini seadil-adilnya untuk dirinya.

“Saya sangat berat dituntut dengan kurungan penjara 5 tahun dan harus membayar denda Rp200 juta. Itu berat untuk saya, melihat saya ini korban kebijakan dari seorang pimpinan,” katanya.

Selain ada permintaan uang dari Sibron untuk diberikan ke Khamami, lanjut Wawan, ia juga diperintahkan untuk mengambil uang Rp50 juta kepada Rizon sebagai kontraktor serta Rp700 juta dari Tasuri, Kabid SDA. “Permintaan itu lagi-lagi dari Najmul Fikri untuk meminta uang kepada keduanya yang patut diduga untuk kepentingannya,” bebernya.

Baca :   Khamami Minta Dieksekusi dan Ditahan di Lapas Kelas IA Bandarlampung

Tidak hanya itu, Wawan juga bertanya apa yang dimaksud keadilan oleh jaksa. Apabila perannya sebagai bawahan dan ikut perintah pimpinan.

“Sebagai manusia sekali lagi saya sangat menyesal mengikuti perintah itu. Bagaimana tidak, saya yang terjerat sedangkan dia (Najmul Fikri, red) tidak. Malah dia saat ini sedang enak berkumpul dengan keluarga, sedangkan saya harus menjalani hidup di jeruji dan akan menyandang status terpidana yang mendekam dipenjara serta mantan ASN,” ungkapnya.

“Perlu diketahui wahai majelis hakim, secara pribadi batin saya menjerit. Kenapa saya diperlakukan seperti ini, sekarang saya ditahan, tapi saya yakin Allah memberi jalan terbaik,” sambungnya.

Ia mengaku bahwa saat ini menanggung beban sangat berat. Itu lantaran ia harus berpisah dengan anak istri beserta keluarganya. “Saya percaya penderitaan ini ada hikmah yang bisa dipelajari dan dipetik, sebagai manusia saya menangis dan bersedih, karena tak pernah terbesit dalam pikiran saya, mengahadapi kenyataan ini. Saya tertuju pada ibu saya, istri, dan ketiga anak saya,” lirihnya.

Baca :   H-1, Khamami Belum Juga Nyatakan SikapĀ 

Wawan melanjutkan, anak yang terkecilnya masih berumur 2,5 tahun, yang tidak tahu jika ayahnya hidup dalam penjara.

“Padahal anak segitu butuh pendampingan seorang ayah, istri selalu menyampaikan bahwa anak saya sering bertanya ‘mama mana papa, sudah lama tidak pulang dan kapan pulang, kami sudah rindu dengan papa’, mendengar pertanyaan anak itu batin saya menangis jika anak saya tahu bapaknya, bagaimana mentalnya apakah bisa mengahadapi ini,” paparnya.

Sebagai warga negara yang baik, lanjut dia, dirinya akan terus berusaha mengungkap permasalahan ini. “Untuk itu saya siap ditahan demi mengungkap kebenaran yang ada. Dan saya harapkan hakim untuk memutuskan perkara seadil-adilnya,” pungkasnya. (ang/sur)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini