Lampung Raya Cegah Gangguan Gajah Liar, Lamtim Usul Perbaikan Kanal di Perbatasan TWNK

Cegah Gangguan Gajah Liar, Lamtim Usul Perbaikan Kanal di Perbatasan TWNK

59
BUPATI Lampung Timur menyerahkan bantuan untuk grup kesenian dalam kegiatan Inovasi Desa Revitalisasi Budaya dan Ekonomi Desa Tahun Anggaran 2019 di Balai Desa Tegalyoso, Rabu (11/9). FOTO HUMAS PEMKAB LAMPUNG TIMUR
BUPATI Lampung Timur menyerahkan bantuan untuk grup kesenian dalam kegiatan Inovasi Desa Revitalisasi Budaya dan Ekonomi Desa Tahun Anggaran 2019 di Balai Desa Tegalyoso, Rabu (11/9). FOTO HUMAS PEMKAB LAMPUNG TIMUR

radarlampung.co.id – Pemkab Lampung Timur akan mengusulkan pembangunan dan perbaikan kanal di desa-desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) ke Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hal ini disampaikan Bupati Zaiful Bokhari saat membuka Inovasi Desa Revitalisasi Budaya dan Ekonomi Desa Tahun Anggaran 2019 di Balai Desa Tegalyoso, Rabu (11/9).

Menurut Zaiful, sebagian besar areal pertanian desa yang berbatasan dengan TNWK sering mendapat gangguan gajah liar. Hal itu disebabkan kondisi kanal di perbatasan TNWK dengan desa penyangga banyak yang rusak, sehingga memudahkan gajah liar masuk ke areal pertanian.

Baca :   Dua Balonkada Ambil Formulir di PDIP Lamtim

“Pemkab Lamtim akan berkoordinasi dengan KLHK dan DPR RI agar kanal yang rusak segera diperbaiki dan yang belum ada, segera dibangun,” kata Zaiful.

Dalam kegiatan yang dihadiri kepala organisasi perangkat daerah, Camat Purbolinggo Akih Sunaryo dan Kepala Desa Tegalyoso M. Yani tersebut, Zaiful mengungkapkan, dengan dibangunnya kanal di perbatasan TNWK, diharapkan penduduk di desa penyangga dapat berusaha tani dengan tenang. Tanpa takut mendapat gangguan gajah liar.

Baca :   Mengapa Karena Satu Desa, Pilkades Serentak Harus Tertunda?

Kesempatan yang sama, Zaiful menyatakan, Pemkab Lamtim juga akan mendukung penuh kegiatan  kebudayaan dan perekonomian rakyat. Sebagai wujud dukungan, Zaiful menyerahkan bantuan alat kesenian kepada camat, kepala desa dan perwakilan grup kesenian.

”Seni budaya yang ditinggalkan oleh leluhur merupakan aset yang harus  dijaga dan dilestarikan. Tujuannya agar generasi mendatang tidak lupa dengan seni budaya tersebut,” tegasnya. (wid/ais)  

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini