oleh

Harga Tomat Sempat Anjlok, Dinas TPH Lampung Beberkan Penyebabnya

radarlampung.co.id – Sempat anjlok hingga harga Rp400 per kilogram pada awal Sepember lalu membuat Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Lampung turun tangan menstabilkan harga jual Tomat dari petani.

Kepala DTPH Provinsi Lampung Chrisna Putra pihaknya telah melakukan beberapa upaya. Alhasil harga Tomat sekarang sudah berkisar di Rp1.500-Rp1.700 perkilogram.

“Iya kami sudah turun langsung ke lapangan, soal video yang beredar soal harga tomat itu sudah dua bulan lalu. Harga tomat sejak 9 September sudah kisaran Rp1.500 sampai Rp1.700 per kilogram di tingkat petani,” kata Chrisna melalui ponselnya, Senin (16/9).

Chrisna menambahkan, harga Tomat sempat anjlok karena saat panennya bersamaa dengan petani di kabupaten Lampung Timur, Pesawaran, Lampung Selatan dan Tanggamus. Karena itulah tomat membludak sehingga mengakibatkan harganya turun drastis.

“Tapi kami sudah turun langsung bertemu dengan petani dan kami sudah imbau untuk menggunakan metode tanda petik beberapa hari dan harganya sudah membaik,” ungkapnya.

Pihaknya juga mengimbau petani untuk mengikuti pola tanam yang dianjurkan. Termasuk mempertimbangkan pengolahan hilir dari Tomat. Jadi tidak hanya dijual dalam bentuk sayur, namun juga bentuk olahan.

“Tapi untuk kejasama produk olahan dengan pengusaha ini masih mau kami jajaki, karena  ada persyaratan pemakaian zat kimia,” tandasnya.

Sebelumnya diketahui, penggunaan obat-obatan kimia pada komoditas tomat, menjadi salah satu penyebab komoditas tersebut kalah bersaing di pasaran, bahkan harga jual tomat saat ini hanya Rp400 perkilogram. Bahkan perusahaan-perusahaan seperti indofood menolak untuk menampung hasil panen tomat di Lambar yang begitu berlimpah.

Kabid Hortikultura DTPH Lambar Patoni mengungkapkan, pemerintah daerah telah melakukan upaya untuk menjajaki ke perusahan-perusahaan untuk membantu petani dalam memasarkan hasil produksi, hanya saja kendala ditemui, di mana produk tomat Lambar tidak memenuhi kriteria yang  diharapkan perusahaan.

“Kami sudah berupaya, tomat yang dihasilkan petani ternyata tidak memenuhi kriteria, meskipun secara fisik kwalitas sangat bagus, namun penggunaan obat-obatan kimia itu menjadi penyebab kenapa tomat kita ditolak, dan yang diharapkan perusahaan itu tomat tanpa penggunaan kimia dan itu sulit,” ungkapnya. (rma/kyd)



Komentar

Rekomendasi