oleh

Tanpa Dana APBD, Mural Underpass Unila Diklaim Bertahan 12 Tahun

radarlampung.co.id – Mural bertema Bawah Laut di Underpass simpang Universitas Lampung (Unila)  yang dikerjakan para seniman mural 100 persen tanpa menggunakan dana APBD. Bahan lukisan tersebut diklaim mampu bertahan hingga 12 tahun ke depan.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pola Pardede mengataan, pengerjaan lukisan tersebut tidak termasuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Semuanya hasil sponsor dan partisipasi. Semisal ada perusahaan yang menyumbang 5 juta kita kumpulkan. Jadi tidak dianggarkan sama sekali,” katanya kepada Radarlampung.co.id di ruang kerjanya, Selasa (17/9).

Menurutnya, pengerjaan lukisan underpass merupakan ide dari Wali Kota Bandarlampung Herman H.N., untuk memberikan kesan sejuk saat memasuki Kota Tapis Berseri. Selain itu, pada intinya sebagai sarana untuk mengakomodir para seniman agar ikut berpartisipasi.

“Selama ini kan seniman jalanan atau para seniman tidak diakomodir. Namun setelah kita ajak bekerjasama mereka mau dan bisa menunjukan karya yang luar biasa, tentu ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Pola menilai, seniman Mural tidak bisa disamakan dengan buruh biasa. Karena itu, ia mengungkapkan bayaran yang akan mereka terima sebesar Rp150 ribu per orang perhari. “Terkait hal ini, tentu kami telah melakuakn penandatanganan kontrak. Kita bicarakan mereka maunya berapa, kita sanggupin,” tandasnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata Bandarlampung, M. Yudhi mengaku bahwa seluruh biaya dan operasional sepenuhnya bersumber dari Wali Kota melalui Sekretaris Kota dengan memanfaatkan sumber pendanaan sponsor dan partisipasi.

“Salah satu sponsor yang bersedia menyediakan pendanaan untuk bahan yakni Bank Wawai. Makanya, nanti setelah jadi, kita akan pasang logonya di sana. Sedangkan biaya transportasi dan akomidasi sepenuhnya kebijakan dari pak Wali melaui Sekda. Sponsornya mereka yang mencari,” ujarnya.

Dalam hal ini, Dinas Pariwisata mengakomodir para seniman untuk mengerjakan lukisan. Dirinya pernah diperintahkan Wali Kota untuk mengajukan kerjasama dengan PT Jotun Indonesia dalam pemenuhan bahan cat, tapi tidak jadi lantaran pihak perusahaan tidak bersedia.

“Sudah pernah mengajukan kerjasama, tapi mereka jor-joran bilang kalau mereka bersedia untuk menyediakan cat untuk Masjid Al Furqon, jadinya untuk cat kita tidak disponsori Jotun,” ungkapnya.

Sementara untuk jenis cat yang digunakan dalam pewarnaan ada dua macam, yakni merk Jotun dan Mowilex. “Ada warna yang tidak ada di Jotun jadi kita ambil warna yang dari Mowilex. Untuk umur cat bertahan hingga 12 tahun,” pungkasnya. (apr/kyd)



Komentar

Rekomendasi