oleh

AKD Terbentuk, DPRD Bandarlampung Telusuri Dugaan Pencemaran Air Kelurahan Bakung

radarlampung.co.id – DPRD Bandarlampung berjanji bakal mengecek langsung ke lokasi dugaan dampak lingkungan yang mencemari air tanah atau sumur di Kelurahan Bakung, Telukbetung Barat (TbB).

Wakil Ketua Sementara DPRD Bandarlampung Aderly Amelia Sari berjanji akan meninjau langsung ke lokasi yang diduga mengalami pencemaran. Namun, rencana tersebut akan dilaksanakan setelah pembentukan Alat Kelengkapan Dewan (AKD).

“Senin kita kan baru pelantikan definitif, barulah pembentukan AKD. Nah, setelah itu beres dan komisi-komisi sudah terbentuk, baru bisa jalan. Kita usahakan sebelum akhir bulan ini (September 2019),” kata politikus Partai Gerindra ini kepada Radarlampung.co.id, Sabtu (21/9) malam.

Menurutnya, pihaknya akan segera melakukan kunjungan dengan melihat langsung kondisi di lapangan. Apakah pencemaran yang terjadi lantaran tempat pembuangan air besarnya terlalu berdekatan dengan sumur atau ada faktor lainnya.

“Faktor lain seperti perusahaan atau dampak lingkungan lainnya. Nanti kalau kita langsung menjustifikasi tanpa analisa juga engga boleh seperti itu. Ini pasti akan kita tindaklanjuti,” pungkasnya.

Sebagian masyarakat Kelurahan Bakung mengaku bahwa selama ini sudah tidak menggunakan lagi air tanah atau sumur yang mereka gali lantaran diduga mengandung bakteri Ecoli yang melewati ambang batas.

Salah satu pengakuan Runah (38), warga RT 1/Lk 2, Kelurahan Bakung mengakui bahwa air tanah di sekitar sumahnya tidak baik lagi dipakai lantaran telah berubah warna kemerah-merahan dan berbau.

Selain itu, dirinya menyebut air tanah untuk keluarganya tidak lagi digunakan untuk mandi, karena tiap kali digunakan terasa gatal dan setelahnya timbul banyak bentol di kulit.

“Sekarang sumurnya sudah tidak bisa digunakan lagi. Airnya bau dan warna merah. Kalau dipakai mandi bisa gatel-gatel semua badan. Apa lagi mau dipakai minum ya engga mungkin lah,” terangnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (19/9).

Ibu rumah tangga itu mengaku, semua warga yang berada di kelurahan tersebut juga beralih menggunakan sumber air PDAM. “Warga di sini sudah tidak menggunakan air sumur lagi, kayak saya, saya minta bagi air PDAM dari tetangga,” tandasnya. (apr/kyd)

Komentar

Rekomendasi