oleh

Jangan Egosentris, Kaum Dewasa pun Perlu Berefleksi

RADARLAMPUNG.CO.ID – Masih cukup banyak orangtua menganggap tabu ketika harus membicarakan tentang seks dengan anaknya. Kesadaran akan pentingnya memberikan pendidikan seksual pada remaja juga masih sangat minim.

Hal itu ditambah dengan belum tersedianya layanan pendidikan seksualitas yang komprehensif serta berkelanjutan di sekolah.

Perilaku seksualitas pada remaja secara alami dipengaruhi oleh perkembangan hormon dalam dirinya. Pada masa ini, jika seorang remaja tidak mendapatkan pendidikan tentang perilaku seksualitas yang baik dari orangtua, guru, dan lingkungannya, bukan tidak mungkin remaja akan rentan berhadapan dengan permasalahan terkait hubungan seks tidak aman, kehamilan tidak diinginkan, tertular infeksi menular seksual, HIV/AIDS, dan narkoba.

RutgersWPF Indonesia bersama PKBI DIY lantas tergerak mengembangkan sebuah program yang diberi nama Setara (Semangat Dunia Remaja) melalui modul untuk dapat memberikan bekal kepada remaja, tentang seksualitas.

Program tersebut tidak hanya melibatkan remaja sebagai peserta didik tapi juga guru serta elemen sekolah lainnya guna menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja.

Diujicobakan kali pertama di Yogyakarta pada tahun 2012 silam, kini Setara sudah melakukan banyak penyesuaian, seperti menyesuaikan dengan sosial dan budaya sekitar. Country Representative of Rutgers WPF Indonesi Amala Rahmah, SKM, M.Pd. menerangkan, Rutgers banyak melakukan refleksi dan adaptasi.

Salah satunya yang sering dikhawatirkan seakan-akan melakukan legalisasi LGBT. Padahal sesungguhnya yang dibahas lebih komprehensif, seperti meliputi pola pertemanan, mengelola emosi, perencanaan masa depan, dan lain-lain.

“Setara memiliki fokus pada guru karena pendidikan ini harus diinstitusionalisasi,” ucapnya dalam sesi konfrensi pers ICIFPRH, di Yogyakarta, Selasa (1/10).

Rutgers juga, sambung dia, memiliki program Sobat Ask, dengan situs berlabel: www.sobatask.net. Semua pengetahuan dan layanan informasi pada situs ini dikelola oleh tim ahli dan para dokter, sehingga keakuratan informasi tidak perlu diragukan lagi.

Beberapa yang sering diakses adalah kehamilan saat berpacaran dan biseksual.

“Remaja sebenarnya ingin mengakses informasi-informasi, namun seringkali orang dewasa menutupnya atas nama moral. Jika sekarang dilihat modul-modul ini sudah kami adaptasi,” ucapnya.

Sesungguhnya, lanjut dia, orang dewasa memiliki peranan yang sangat besar untuk menjadi model dan membagi informasi. “Kami banyak melakukan refleksi apakah yang kami lakukan sudah tepat. Seringkali kita pun mendapatkan kejutan dari reaksi remaja. Intinya orang dewasa perlu refleksi,” pungkasnya. (sur) 

Komentar

Rekomendasi