oleh

Fenomena Jual Beli Buku Tabungan, Ini Kata OJK Lampung

radarlampung.co.id – Fenomena jual-beli buku tabungan dan ATM tengah menjadi perbincangan di media sosial. Hal ini juga ditemui di beberapa grup jual-beli online, di mana seseorang menawarkan untuk menjual buku tabungan dan kartu ATM-nya pada pengguna lain.

Tidak hanya itu, beberapa pengguna dunia maya bahkan sengaja mencari oknum yang memang menjual buku tabungan dan ATM, lantaran malas untuk membuat rekening baru karena tidak mempunyai KTP atau berkas-berkas yang diperlukan untuk membuka rekening Bank.

Terkait fenomena ini, Kepala Sub bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Lampung Dwi Krisno Yudi Pramono mengatakan, pihak perbankan sebenarnya telah memberikan kemudahan bagi nasabah yang ingin membuka rekening melalui layanan online.

”Walaupun setelahnya nasabah tetap harus datang ke kantor cabang dari bank yang bersangkutan untuk mengambil buku tabungan dan mencetak rekening koran. Tapi kan prosesnya sudah jauh lebih mudah dengan proses pendaftaran online,” kata Dwi kepada Radarlampung.co.id, Rabu (9/10).

Selain itu, data-data seperti KTP, kartu keluarga (KK) memang dibutuhkan untuk menghindari penyalahgunaan rekening tabungan.

”Makanya ketika bank menerbitkan buku tabungan, nasabah harus tatap muka langsung supaya bank juga bisa tau karakteristik nasabah mereka. Pemasukan nasabah per bulan juga harus jelas supaya tidak ada penyalahgunaan rekening itu tadi,” tambahnya.

Selain itu, jual-beli buku tabungan dan ATM juga dapat mengindikasikan adanya penipuan dan memberikan resiko yang besar, terutama pada nasabah pembeli buku tabungan.

Pertama, kata dia, si penjual buku tabungan dan ATM jelas telah memilik data-data pribadi seperti nomor rekning yang terlampir pada tabungan.

Kedua, lantaran saldo tabungan yang ada di dalam rekening tersebut juga tidak terjaga, karena data-data yang ada di dalamnya bukan milik pembeli buku tabungan tersebut.

”Kalau memang ada indikasi penipuan, bisa saja penjual buku tabungan itu melapor ke bank dengan alasan buku tabungannya hilang. Mereka bisa bikin baru, kemudian si pembeli buku tabungan tidak bisa klaim uang tabungannya lagi karena memang data-data yang tercantum di dalam rekening bukan milik mereka,” tandasnya. (ega/kyd)



Komentar

Rekomendasi