oleh

Krakatau Project (K-Project): Inisiasi Riset Tsunami Early Warning System Gunung Anak Krakatau

GUNA mengapresiasi dan memotivasi dosen melakukan riset sekaligus berbagi manfaat kepada masyarakat, Radar Lampung Online dan SKH Radar Lampung bekerja sama dengan Universitas Lampung memublikasikan hasil-hasil riset pilihan.

 

FAKTA bahwa Indonesia terletak pada persimpangan empat lempeng tektonik dan jalur Pacific Ring of Fire serta memiliki lebih dari 100 gunung api aktif mengharuskan masyarakat sadar akan konsep hidup berdampingan dengan bencana. Usaha-usaha untuk membangun masyarakat tanggap bencana harus dilakukan oleh berbagai pihak, terutama pihak akademisi.

Universitas Lampung (Unila) sebagai salah satu universitas negeri di Provinsi Lampung memiliki tanggung jawab akademis terhadap bencana tsunami yang dipicu oleh aktivitas vulkanis dan tektonik Gunung Anak Krakatau (GAK), yang secara geografis masuk ke dalam wilayah Lampung.  Sebagai implementasi usaha ini, para peneliti dari Unila menggagas sebuah riset terpadu tentang Krakatau yang diberi nama Krakatau Project (K-Project).

Secara geografis, GAK berjarak tidak lebih dari 50 km dari tepi pantai Provinsi Lampung.  GAK dikelilingi oleh tiga pulau kecil. Yaitu Rakata, Panjang, dan Sertung dengan jarak masing-masing pulau kurang dari 10 km terhadap GAK.  Kondisi geografis GAK itu memungkinkan di sekeliling GAK dipasang sensor-sensor untuk mendeteksi gempa bumi, tsunami, iklim setempat, dan memberikan tampilan visual real time kondisi GAK (video camera).

Data video dan data sensor ini akan dikirim ke Posko Pemantauan GAK di Hargo Pancoran untuk selanjutnya diolah dan disimpan di GAK data center Unila.  Pengiriman data dilakukan melalui sistem transmisi radio terestrial Line of Sight (LOS). Keutamaan sistem transmisi radio terestrial itu jika dibandingkan sistem transmisi radio satelit diantaranya: biaya operasional lebih rendah, kerahasiaan data lebih terjaga, dan Indonesia berdaulat penuh terhadap data pemantauan GAK, dimana tidak ada campur tangan infrastruktur asing dalam proses produksinya.

Dalam riset ini, dilakukan kajian mendalam terhadap aspek teknis pembangunan sistem transmisi radio terestrial yang menghubungkan sensor-sensor GAK dengan posko pantau GAK serta posko pantau GAK dengan Data Center Unila dan masyarakat pinggir pantai khususnya yang berpotensi terdampak tsunami.

K-Project adalah sebuah riset terpadu yang melibatkan banyak disiplin ilmu, mulai dari rekayasa keteknikan, ilmu kebumian, biologi kelautan, konservasi sumber daya alam, hingga ilmu-ilmu sosial dan Pendidikan. Demikian penjelasan Dr Ing. Ardian Ulvan, selaku penggagas K-Project.

Proyek riset Krakatau ini diinisiasi lewat pengembangan sebuah sistem peringatan dini bencana tsunami (Tsunami Early Warning System – TEWS). Peristiwa Tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 yang menimbulkan banyak korban jiwa di pesisir Banten dan Lampung memberikan fakta minimnya upaya pemantauan GAK sehingga instrumen yang dimiliki tidak dapat memberikan peringatan dini akan terjadinya tsunami.

Baca :   44 Insyiur PPI Unila Dikukuhkan

Menurut Mona Arif Muda Batubara, S.T., M.T., dosen peneliti dari Teknik Informatika Unila yang ikut menggagas Krakatau Project, pada sistem pendeteksi tsunami konvensional, data hasil pemantauan oleh sensor dikirim ke pusat pengawasan melalui sistem komunikasi satelit.  Mekanisme ini membutuhkan daya pancar yang cukup besar dari sensor ditengah keterbatasan ketersediaan energi sensor.  Hal ini mengharuskan sensor dilengkapi baterai dengan kapasitas penyimpanan yang besar dan diperlukan penggantian berkala sehingga menyebabkan biaya investasi awal dan biaya operasional menjadi mahal.  Selain itu, sistem komunikasi satelit itu membutuhkan biaya sewa frekuensi radio yang menyebabkan biaya pembangunan jaringan menjadi mahal.

Berbeda dengan sistem peringatan dini tsunami pada umumnya, pengembangan Unila Tsunami Early Warning System (U-TEWS) dilakukan dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai oleh para peneliti Unila, berbiaya rendah, dan berbasis pada kearifan lokal masyarakat pesisir Lampung.  Dalam implementasinya, U-TEWS tidak akan banyak bergantung kepada bantuan pihak asing. Meskipun demikian, U-TEWS akan tetap menjadi bagian sub-system dari sebuah sistem peringatan dini tsunami secara nasional atau yang dikenal dengan Indonesian The Early Warning System (Ina-TEWS).

”U-TEWS harus dapat bekerja secara kontinyu, memerlukan biaya investasi awal dan biaya operasional yang rendah, dan memberdayakan sumber daya manusia lokal dari proses perancangan hingga operasionalnya,” ujar Fadil Hamdani, dosen peneliti muda dari Jurusan Teknik Elektro yang juga terlibat dalam K-Project.

Konsep kemandirian teknologi ini adalah aspek lain yang menjadi penekanan para peneliti Unila yang tergabung di K-Project. Sistem peringatan dini bencana tsunami ini dirancang dengan cara menempatkan sensor-sensor pemantau di sekitar GAK yang terhubung langsung ke posko pantau GAK.  Hasil analisa data sensor akan memberikan konfirmasi terhadap prediksi terjadinya tsunami.  Dengan demikian, masyarakat tepi pantai dapat memperoleh peringatan dini berdasarkan data yang akurat untuk menghindari jatuhnya korban jiwa akibat tsunami.

Sebagai tulang punggung utama berjalannya sistem pemantauan itu, diperlukan sistem penghubung yang handal dan efisien antara sensor-sensor pemantau GAK, posko pantau Hargo Pancoran Information Center (HPIC), pusat data pemantauan di Unila (GAK-data centre), dan pusat informasi masyarakat (local community centre – LCC).

Baca :   44 Insyiur PPI Unila Dikukuhkan

”Kami menggunakan masjid dan mushola sebagai LCC,” jelas Dr Ing. Melvi, peneliti dari Teknik Elektro yang tergabung dalam K-Project. Jika terjadi fenomena alam yang tidak biasa, seperti naiknya permukaan air laut, aktivitas seismik dengan intensitas tinggi, kadar zat-zat tertentu yang terkandung dalam debu vulkanis, atau perubahan temperatur, tekanan udara, dan lain-lain, maka sensor-sensor yang terkait dengan besaran-besaran fisis dan kimiawi yang terdapat di komplek GAK atau lokasi lain yang ditentukan akan bekerja. Masing-masing simpul sensor (sensor access point – SAP) akan mengirimkan data ke sebuah simpul pengumpul data (sink node) atau yang rencananya ditempatkan di lokasi tertinggi dan teraman di komplek GAK, yaitu di Pulau Rakata (stasiun Pulau Rakata – SPR).

Dari SPR, data itu akan dikirim melalui transmisi radio untuk diolah di pos pantau HPIC di Desa Hargo Pancoran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Lalu data hasil olahan itu akan dikirim sebagai sinyal alarm (sirene) ke LCC yang berada di pesisir Lampung Selatan dan Pulau Sebesi, sebagai sinyal peringatan dini bagi masyarakat setempat.

Selain mengirimkan alarm ke LCC, data hasil akuisisi itu akan dikirim ke GAK Data Center yang terdapat di Unila. Selanjutnya data sensor yang diperoleh secara series (terus menerus dan berkesinambungan) itu diolah untuk menghasilkan informasi terkait dengan GAK yang dapat digunakan para stakeholder dalam melakukan kajian-kajian untuk riset lebih lanjut, kajian kebijakan, dan pengambilan keputusan dalam rangka mitigasi bencana. Informasi itu dapat berkontribusi sebagai supplementary information pada sistem peringatan dini nasional di bawah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Melalui riset ini diharapkan, Unila sebagai institusi pendidikan dan riset dapat mengembangkan dan memiliki dataset informasi terkait aktivitas GAK, dataset iklim dan lingkungan di sekitar GAK, serta data set lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti untuk melakukan riset terkait GAK dan stakeholder lainnya, khususnya pemerintah dalam perumusan kebijakan untuk kawasan GAK dan Selat Sunda secara lebih luas. (*)

 

Penulis:  Dr. Ardian Ulvan, S.T., M.Sc.

(NIP: 197311281999031005/Dosen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Lampung)

 



Komentar

Rekomendasi