oleh

Batik Tulis Labuhan Ratu 7 Lampung Timur : Share Knowledge dari Desa, Menciptakan Social Entrepreneurship di Desa

GUNA mengapresiasi dan memotivasi dosen melakukan riset sekaligus berbagi manfaat kepada masyarakat, Radar Lampung Online dan SKH Radar Lampung bekerja sama dengan Universitas Lampung memublikasikan hasil-hasil riset pilihan.

 

MODEL pembinaan dan pengembangan desa selama ini dilakukan dengan transfer knowledge dari luar. Atau dengan mendatangkan expert dari luar desa, misalnya saja pemerintah.  Padahal banyak potensi expert yang ada di desa sebagai pelaku usaha nyata, memiliki jiwa sosial, serta telah berkontribusi ekonomi nyata bagi keluarga dan bagi perkembangan dinamika desa (social entrepreneurship).

Expert desa sesungguhnya sangat banyak. Namun, kehadiran mereka tidak terlihat karena sering dijadikan target sasaran sosialisasi pelatihan dan dianggap tidak memiliki lisensi untuk transfer knowledge.

Novita Tresiana dan tim PKM (Bertha Putri, Rahma Diantri Putri, dan Noverman Duadji) bekerjasama dengan KPPPA RI dan Kabupaten Lampung Timur melakukan survei (Juni-Agustus 2018) untuk mendapatkan data riil pelaku usaha nyata yang dilakukan keluarga dan perempuan di dua desa.  Yaitu Labuhan Ratu 7 dan Labuhan Ratu 8.

Baca :   44 Insyiur PPI Unila Dikukuhkan

Hasil survei menemukan ada potensi usaha pengembangan produk lokal yaitu batik tulis di Desa Labuhan Ratu 7. Usaha batik tulis yang dikembangkan oleh suami istri, Bapak dan Ibu Basuki ini sudah berjalan lebih 10 tahun. Namun masih memiliki keterbatasan pasar (hanya beberapa tempat dan tidak banyak yang tahu usaha batik) walau kualitas dan harga cukup bersaing.

Melalui FGD, tim yang dikomandoi Novita Tresiana bersama Bapak dan Ibu Basuki serta kelompok industri rumahan di dua desa yang telah dibentuk oleh tim PKM tahun sebelumnya itu menggagas produk desa bersama sebagai implementasi wujud nyata program Kemendes yakni one village one product   dengan mengembangkan Batik Tulis Labuhan Ratu 7  bermotif Pohon Pisang. Motif atau corak pohon pisang dipilih karena merupakan sumberdaya lokal yang banyak ditemui di Labuhan Ratu.

Melalui penguatan visi, kreatifitas, jiwa wirausaha, dan keinginan untuk berbagi yang dimiliki oleh Bapak dan Ibu Basuki, tim PKM memediasi transfer knowledge Bapak dan Ibu Basuki dalam bentuk pelatihan. Kegiatan ini  ini diikuti kelompok ibu-ibu di dua desa yang berjumlah 80 orang. Mereka dibagi menjadi delapan kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan tutorial dan menjalani praktek langsung di tempat usaha Bapak dan Ibu Basuki. Hasilnya, para ibu sudah memiliki keahlian membatik minimal pada produk taplak meja dan sapu tangan dengan motif pohon kelapa. Kini Labuhan Ratu 7 mulai dikenal dengan produk batik tulisnya. Dinas Pariwisata Lampung Timur dan Provinsi Lampung telah menetapkan Desa Labuhan Ratu 7 sebagai salah satu lokasi tujuan City Tour untuk pariwisata Waykambas. Alhasil banyak wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri yang telah berkunjung ke Desa Labuhan Ratu 7. (*)

Baca :   44 Insyiur PPI Unila Dikukuhkan

 

Penulis: Dr. Novita Tresiana, M.Si.

(NIP 197209182002122002/Staf Pengajar Ilmu Administrasi Publik FISIP Unila/Ketua Puslitbang Wanita, Anak, dan Pembangunan LPPM Unila)

 



Komentar

Rekomendasi