oleh

Radikal LaVani

SAYA ini boleh dibilang golongan radikal. Melayat kok begitu telat.

Saya baru melayat setelah almarhumah dimakamkan lebih lima bulan sebelumnya. “Nyuwun duko,” kata saya kemarin malam–saat saya menyalami suami almarhumah.

Nyuwun duko. 

Itu tidak bisa diartikan sebagai sekedar minta maaf. Arti harfiah “nyuwun duko” adalah “minta agar diberi marah”.

Itulah orang Jawa. Atau budaya Jawa. Kalau merasa berbuat salah–yang keterlaluan–tidak cukup sekadar minta maaf. Harus sampai minta dimarahi.

Nyuwun duko, pak”, kata saya mengulangi.

Gak apa-apa. Saya tahu Pak Dahlan lama di luar negeri,” ujar beliau–sambil merangkul saya. “Waktu almarhumah dirawat di Singapura Pak Dahlan kan sampai menengok dua kali,” tambah beliau.

Kemarin malam, saya memang ke Cikeas. Melayat. Sangat telat. Dulu, saat Ibu Ani Yudhoyono meninggal dunia, saya lagi di Amerika. Lalu harus ke Tiongkok. Ke beberapa negara lainnya lagi. Sambung ke Inggris. Baru ketemu istri sendiri di Hangzhou. Diajak pulang.

Nyuwun duko,” kata saya lagi–sambil cipika-cipiki.

Lalu saya tinggalkan HP di teras. Kemudian diajak duduk di meja rapat–di ruang depan.

Ruang itu tidak asing bagi saya. Sudah sering saya diterima beliau di situ. Dulu. Saat masih menjadi sesuatu.

Nyuwun duko,” kata saya lagi–setelah duduk di kursi.

Kami hanya berdua.

Sunyi.



Komentar

Rekomendasi