oleh

Di Seminar PWI-PTPN VII, Prof Yusuf Barusman Paparkan Kartu Petani Berjaya

RADARLAMPUNG.CO.ID -PWI Lampung bersama PTPN VII menggelar seminar  perkebunan bertema “Membangkitkan Kejayaan Komoditi Perkebunan Lampung” di Gedung PTPN VII, Senin (18/11).

Ada empat narasumber yang mengisi acara tersebut, yakni Direktur Komersil PTPN VII Achmad Sudarto, Ketua Tim Program Kartu Petani Berjaya Prof. Yusuf Sulfarano Barusman, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Lampung Edi Yanto, dan Ketua Komisi II DPRD Lampung Wahrul Fauzi Silalahi.

Achmad Sudarto menjelaskan, karakter tanah di Lampung cocok dengan tanaman keras seperti tanaman kopi, sawit, dan tebu. “Ke depan PTPN VII akan menanam sereh wangi minyak Atsiri skala 30 hektar margin 20 persen,” ujarnya.

Bicara, era revolusi industri 4.0, kata dia, ada banyak petani binaan di PTPN VII yang pendidikannya tidak tinggi. Namun dengan era globalisasi tidak ada yang bisa mencegah modernisasi. Termasuk di dunia pertanian.

“Hari ini semua industri menggunakan mekanisasi. Ke depan seperti itu. Petani harus bisa membuat terobosan agar produktifitasnya tinggi. Kalau tidak semua akan tutup. Orang ke luar angkasa apa makan beras? Tidak. Cukup makan pil. Jadi tidak tertutup kemungkinkan ke depan akan seperti itu,” ungkapnya.

Sedangkan Edi Yanto menjelaskan, harga jual masih jadi kendala. “Sulit diprediksi harganya. Problemnya karena petani sering ganti-ganti. Harga karet murah ditebang diganti tanaman singkong. Begitu sebaliknya. Jadi tidak stabil,” katanya.

Lalu, berubahnya area pertanian jadi pemukiman. “Nah, di kartu Petani Berjaya ini kita buat gimana caranya petani dapat pupuk, dapat modal, juga dapat jaminan asuransi,” ungkap Edi.

Di bagian lain, Prof Yusuf Barusman mengatakan bahwa kartu petani berjaya yang dibuat Gubernur Arinal Djunaidi bukan hanya sekedar membuat tanaman bagus dan menjadikan harganya naik. “Tujuan akhir kartu petani berjaya ini adalah kesejahteraan petani kesejahteraan secara ekonomi dan sosial,” ungkapnya.

Dengan kartu Petani Berjaya, kata dia, pihaknya akan mencoba melakukan pendekatan secara kelembagaan. Misalnya, petani yang memiliki lahan pertanian yang kecil akan dicoba digabungkan. Karena lahan kecil tidak efisien karena lebih besar pengeluaran daripada penghasilan.

“Karena itu kita coba pendekatan kelembagaan. Sudah kita lakukan di petani binaan kita seperti di Pasena berhasil. Kita gabungan pertanian yang kecil-kecil manajemennya dibuat seperti perusahaan,” tandasnya. (nca/sur)

Komentar

Rekomendasi