oleh

IK-DMI Lampung Timur Gelar Simposium Keagamaan dan Kebangsaan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Ikatan Khotib Dewan Masjid Indonesia (IK-DMI) Kabupaten Lampung Timur menggelar simposium keagamaan dan kebangsaan, Jumat (6/12). Kegiatan yang digelar di Aula Islamic Center Sukadana itu dilaksanakan dalam rangka mencegah bahaya radikal, terorisme dan literalisme beragama.

Hadir pada acara yang diikuti para pelajar, ponpos dan guru rohis tersebut antara lain Kombespol R. Ahmad Nur Wahid dari Densus 88, Ketua DPW IK-DMI K. H Dimyadi, Kepala Kantor Kementerian Agama Lamtim Karwito, Kabag Sumda Polres Lamtim Kompol Salman Fitri, Kasat Bimas Iptu Marbun, Chairman Radar Lampung Grup Ardiansyah serta Kacab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung wilayah V Indarti

Kombes Pol R. Ahmad Nur Wahid menjelaskan, potensi radikal, terorisme dan liberalisme bukan monopoli di salah satu agama. Menurutnya, paham radikalisme antara lain memiliki ciri berniat mengganti idiologi Pancasila

Baca :   Kasus Penipuan Gabah, Polres Lamtim Segera Amankan Tersangka Baru

“Radikalisme dan terorisme mengatasnamakan islam adalah fitnah,” tegasnya.

Kesempatan yang sama disampaikan oleh Ustad Sofyan Sauri yang merupakan mantan terorisme menjelaskan bahwa, orang yang memiliki paham radikalisme akan mengkafirkan orang atau kelompok yang tidak sepaham. Namun, setelah menjalani masa penahan dirinya menyadari bahwa paham tersebut salah. “Kalau mau memahami agama belajarlah kepada guru yang tepat,” jelasnya.

Baca :   Diler Motor di Lamtim Dibobol Pencuri

Pada kesempatan itu, Chairman Radar Lampung Grup Hi. Ardiansyah menyatakan, media dapat berperan mencegah paham yang dilarang itu melalui pendidikan kepada masyarakat.

“Media dapat berperan mendidik masyarakat melalui pemberitaan yang benar dan bukan berita hoax,” kata Bang Aca -sapaan akrab Ardiansyah-.

Sementara Khoirurojij selaku ketua panitia menjelaskan, saat ini banyak media sosial yang menyebarkan paham radikalisme melalui literasi beragama dengan sasaran para pelajar.

“Karenanya, kegiatan simposium itu mengikut sertakan para pelajar agar memahami dan tidak terpapar paham radikalisme, terorisme dan literasi beragama,” pungkasnya. (wid/ang)

Komentar

Rekomendasi