oleh

Densus 88: Benar Bahwa Lampung Masuk Kategori Lampu Merah Paham Radikalisme dan Terorisme

RADARLAMPUNG.CO.ID – Berdasarkan keterangan dari penelitan BNPT di tahun 2018, Lampung masuk dalam kategori lampu merah paham radikalisme dan terorisme nomor dua di Indonesia. Hal itu dikatakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung Khairudin Tahmid pada acara Moslem Lampung for Indonesia, Jumat (6/12) lalu.

Menanggapi hal itu, Kabag Basops Densus 88 AT Mabes Polri Kombespol Ahmad Nurwakhid membenarkannya. Menurutnya hal itu memang terbukti dengan adanya sekitar 500 teroris yang ditangkap di Papua juga berasal dari Lampung dan terkait jaringan Lampung.

“Ya untuk potensi di Lampung juga memang cukup besar. Dan ini memang menjadi prioritas Densus 88 untuk menanggulangi para terorisme ini,” ujar Nurwakhid kepada radarlampung.co.id, Minggu (8/12).

Ditanya apakah akan ada operasi-operasi penangkapan teroris lagi di Lampung, Nurwakhid menjelaskan untuk hal itu tentunya akan terus dilakukan. Tetapi untuk kapan dan dimananya itu hal rahasia bagi Densus 88.

“Ya Densus 88 operasinya selalu dalam rangka menanggulangi radikalisme dan terorisme dan skupnya juga nasional tidak hanya di Lampung. Karena terorisme itu merupakan transnasional crime atau kejahatan internasional. Dan kebanyakan untuk yang sudah kami ungkap itu dari jaringan ISIS dan JAD,” bebernya.

Menurut dirinya, penyebaran dan doktrin terorisme kini telah berubah pola. Yang mana dulunya untuk merekrut suatu pelaku itu harus bertemu, kini perekrutan itu menggunakan media sosial. “Jadi mereka ini berbaiatnya sekarang lewat online. Termasuk doktrin radikalisasi lewat online,” jelasnya.

Dan ia pun mencontohkan lagi, bahwa satu terduga terorisme dan satunya lagi tidak harus bertemu untuk melakukan tindakan dan rencana terorisme, mereka hanya perlu berencana lewat media sosial.

“Nah kita lihat kan sering terjadinya aksi terorisme tapi sifatnya mereka melakukan sendiri, seperti waktu ada peristiwa bom alam sutera setelah diselidiki pelaku ini tidak masuk dalam jaringan, namun sudah melakukan aksi teror,” ungkapnya.

Atas hal itu pihaknya terus berinovasi dan berkreasi untuk upaya penanggulangan dan menekan angka terorisme. “Tapi pada prinsipnya penanggulangan aksi terorisme ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Densus 88 saja, tetapi berbagai pihak termasuk masyarakat,” pungkasnya. (ang/sur)

Komentar

Rekomendasi