oleh

Aparatur Desa Jatimulyo Sepakat Cegah Paham Radikalisme

RADARLAMPUNG.CO.ID – Untuk mencegah paham radikalisme dan terorisme, sejumlah aparatur Desa Jatimulyo, Kec. Jatimulyo, Lampung Selatan menggelar silaturahmi dalam rangka menjalin persatuan dan kesatuan antar pondok pesantren, pada Rabu (11/12).

Kegiatan ini juga turut hadir Kapolsek Jati Agung, Iptu Anwar Mayer Siregar dan Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Mabes Polri.

Kasubag Hukum dan Kerukunan Umat Agama Kanwil Kementerian Agama Lampung Musal Badri Kesuma menjelaskan, kegiatan ini dilakukan mengingat beberapa waktu lalu beberapa terduga paham radikalisme diamankan diseputar Jatiagung.

“Silaturahmi ini sebagai kegiatan untuk menambah wawasan bangsa agar lebih cinta tanah air. Beberapa waktu lalu kami didatangi dari Mabes Polri bertanya kondisi umat beragama di Lampung, maka jawabannya digelarnya acara ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk itu Kemenag akan selalu melakuan program pengawasan terhadap organisasi masyarakat terkhusu Pondok Pesantern yang terpapar radikalisme. “Kegiatan ini akan dilakukan terus pengawasan apabila terbukti lembaga Ponpes yang terpapar radikalisme akan dilakukan pendekatan dan pembinaan secara rutin,” jelasnya.

Dan ditanya berapakah data ponpes yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme, ia pun mengaku secara administrasi sampai hari ini belum ada laporan ke pihaknya. “Kalau itu, baru info-info saja terkait ponpes atau lembaga yang terpapar radikalisme,” jelasnya.

Musal -sapaan akrabnya- menambahkan lagi, bahwa sudah semestinya perbedaan disyukuri dan dikelola sebaik-baiknya, bukan untuk memecah belah. “Kalau tidak disyukuri dan dikelola akan berlotensi konflik, sudah banyak kejadian di negara kita terjadi konfilk baik suku ras dan agama, jadikan perbedaan sebagai sebagai keindahan,” bebernya.

Menurutnya kemajuan teknologi semakin berkembang bersama dengan kemajemukan masyarakat, hingga ada beberapa kelompok yang tidak suka dengan kedamaian di Indonesia. “Maka mulailah membuat pemikiran, fitnah dan hoax yang menghancurkan, hp ini bisa menjadi alat propaganda maka sudah seharusnya bisa menyaring informasi di hp ini,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua NU Cabang Jatiagung Abdul Aziz mengatakan orang desa jika berbicara radikalisme, nasionalisme, intoleranisme, tidak akan tahu. “Tapi yang kita tahu hidup di Indonesia, makan di Indonesia, nyari hidup dan kehidupan di Indonesia,” katanya.

“Buat kami Ponpes, Indonesia merupakan rumah untuk melakukan semuanya. Nah kalau ada yang merusak rumahnya sendiri ini pemikirannya sudah berlebih. Lah sudah semestinya kita menjaga rumah kita,” jelasnya.

 

Abdul Aziz pun mengatakan pihaknya akan berperan aktif untuk menangkal paham radikalisme. “Untuk disampaikan kita tidak juga mengajarkan keislaman dalam hadis tapi juga kebangsaan untuk menjaga negara ini dengan baik,” terangnya.

Dilain pihak, Kasat Intel Polres Lamsel Iptu Andi Yunara mengatakan silaturahmi yang dilaksanakan untuk menggali persatuan dan kesatuan khususnya di Desa Jatimulyo.

“Silaturahmi adalah cara dalam kita dalam menangkal paham radikalisme, kita menjalin persaudaraan dalam perbedaan, kita semua berbeda tapi bagaimana ditengah-tengah ketidaksamaan ini bisa bersama-sama dalam kerukunan,” tuturnya.

Andi pun menyampaikan ada beberapa ancaman yang bisa merusak keutuhan NKRI, diantaranya Narkoba dan paham Radikalisme. “Paham-paham radikalisme, itu bisa dilihat seperti apa melalui buku atau download online, tapi juga gitu jangan sampai salah guru atau pun pondok, seperti di Tanjung Bintang salah satu rohis atau guru bukan mengajarkan persatuan tapi, mohon maaf, mengajarkan untuk tidak berkomitmen NKRI harga mati,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Desa Jatimulya Sumardi kegiatan ini sebagai bentuk sosialisasi dan juga pendekatan. “Kami hanya lakukan pendekatan, kami belum dimana titik-titik paham radikalisme, tapi yang jelas kami akan berusaha dengan perangkat desa agar lebih dekat lagi agar terjalin komunikasi,” pungkasnya. (ang/)

Komentar

Rekomendasi