oleh

Ayo, Dorong Produktivitas Kopi Berkualitas!

RADARLAMPUNG.CO.ID – Kopi merupakan komoditas utama di Lampung dan menurut Kementerian Pertanian, Lampung adalah penghasil kopi robusta terbesar ke dua setelah Sumatera Selatan dengan produksi mencapai 106,716 ton untuk jenis robusta melalui sistem perkebunan rakyat. Hal ini menarik petani membuka lahan untuk ditananami kopi. Tetapi, pembukaan lahan tersebut, petani menggunakan tanah konservasi.

Koordinator Program BESTARI David Purmiasa menilai, produksi kopi petani masih rendah. Misalnya studi kasus di desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menunjukkan bahwa satu hektare kebun kopi baru hanya menghasilkan 600 kilogram per tahun.

“Demi mendapat penghasilan lebih, masyarakat memilih untuk membuka dan menggarap lahan di kawasan hutan konservasi. Pembukaan tutupan hutan ini, tentu akan berpengaruh terhadap fungsi dari lahan konservasi itu sendiri,” kata David.

Di kawasan Lampung Barat, lanjutnya, perkebunan masyarakat tidak hanya berada di kawasan tanah marga, tetapi juga di kawasan hutan negara. Seluas sekitar 21.900 hektar kawasan taman nasional yang berada di wilayah administrasi Lampung Barat digarap menjadi lahan perkebunan oleh masyarakat.

Hal tersebutlah yang mendorong WWF memperkenalkan pola tanam agroforestry untuk meningkatkan produktivitas petani kopi. Agroforestry merupakan penggunaan lahan yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian untuk meningkatkan keuntungan baik lingkungan maupun ekonomis.

Sutarno Kordinator Livelihood BESTARI World Wide Fund Indonesia mengatakan, semenjak tahun 2000, naungan tanaman kopi mulai mati, yang menyebabkan penghasilan petani kopi menurun karena produktivitas kopi juga menurun. Hal tersebut disebabkan, petani kopi hanya mendapatkan penghasilan dari kopi saja, akibat tidak adanya tanaman lain. Padahal dengan adanya tanaman penaung dapat meningkatkan produktivitas ekonomi maupun lingkungan.

“Panen satu ton hanya Rp20 juta tapi dengan tanaman lain yang dibuat agroforestri atau pengintensifan lahan kopi yang ada dengan tanaman penaung atau tutupan lahan yang bernilai ekonomi seperti pohon durian, jengkol, dan petai. Jadi petani tidak hanya mendapatkan dari kopi, tetapi juga dari tanaman lain yang menjadi penaung,” ujarnya usai talkshow Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung bersama BESTARI dengan tema kopi, hutan, iklim di Whizprime Hotel, Minggu (15/12).

Dengan adanya tutupan lahan yang baik, keanekaragaman hayati semakin baik, seperti cacing yang sangat dibutuhkan oleh petani. Kemudian, dengan tutupan lahan yang baik juga diharapkan hewan-hewan polinator atau penyerbuk akan muncul lagi, sehingga petani dapat terbantu untuk meningkatkan produktivitas kopi.

“Kami berharap dengan pola tanam ini, keanekaragaman hayati akan semakin baik. Kalau sudah baik, pendapatan petani akan semakin beragam, dan tutupan hutan tidak terganggu,” ujarnya.

Kepala Bappeda Lampung Barat Okmal menuturkan, Lampung Barat memiliki komitmen untuk meningkatkan produktivitas kopi. Salah satunya komitmen konservasi, karena sebagian kawasan di Lampung Barat dikelilingi hutan kawasan. (rur/sur)

Komentar

Rekomendasi