oleh

Tinggalkan Kebumen, Usup Nekat Jalani Peran Manusia Gerobak di Bandarlampung

Istilah manusia gerobak belakangan kian familiar di telinga. Ya, dua kata itu mewakili perumpamaan sesosok orang yang tiap hari bersama gerobak. Tidur pun bersama gerobak. 

Laporan Aprohan Saputra, RADARLAMPUNG.CO.ID

Minggu (15/12) dini hari, Radar Lampung menyapa seorang pria bersama gerobak menepi di Jl. Sultan H., pinggiran pagar Indomobil Nisan Datsun Lampung, Labuhanratu. Terlihat matanya memerah. Kurang tidur. Lemah.

Pria itu adalah Usup Yani (42), yang belakangan ini hidup bergantung dari kotak beroda dengan tuas yang didorongnya sehari-hari. Alhasil, istilah manusia gerobak tersemat padanya dari beberapa orang yang menjumpainya.

Ya, manusia gerobak tak hanya memanfaatkan grobaknya untuk memulung. Jauh lebih dari itu, gerobak mereka menjadi dinding penahan dingin saat beristirahat di malam hari. Itu lantaran mereka tak memiliki rumah untuk berlindung dari udara malam yang menusuk tulang.

Usup terlihat duduk menakup dua lutut. Sendiri. Bersama satu grobak ukuran 1×1,5 meter. Mengenakan topi koboi hitam dengan baju merah dengan beberapa tambalan. Celana pendek cream.

Dirinya beristirahat di lokasi itu sejak jarum jam menunjuk pukul 21.00 hingga menjelang subuh. Radar Lampung menyapanya sembari izin duduk di sampingnya.

Terasa, Usup sangat terbuka dan tak sungkan menceritakan awal ia ke Bandarlampung.

Ya, Usup mengaku berasal dari Kedondong, Kebumen. Ia memiliki keluarga besar di sana. Tinggal bersama ibu, istri Nike Poni Lia Sari dan tiga putrinya bernama Dwi Poni (15), Kiki (13), dan Nike (2).

“Saya tinggalkan mereka si Dwi masih umur 14 tahun, si Kiki sundulan, satu tahun lebih melahirkan Kiki. Kalau Nike dulu umurnya 5 bulanan,” kata Usup kepada wartawan media ini.

Usup bilang berada di Bandarlampung kurang lebih satu tahun setengah. Meninggalkan keluarga besarnya di Kebumen. Usup tak sendiri. Ia ke Bandarlampung bersama Toni (37) dan Ari (37).

Mereka bertiga berangkat bersama atas ajakan Rudi yang tinggal di Kebumen. Rudi merupakan adiknya Yuli. Sedangkan Yuli adalah adik dari istri Sahri (60) seorang pemilik usaha rongsokan belakang Rumah Sakit Bumi Waras.

Usup dan kawan-kawan berangkat dari Kebumen diongkosi Sahri. Mereka dijanjikan akan dibangunkan gubuk. Namun, janji itu tinggal janji, mereka tak diberi tempat tinggal. Hanya bisa tidur di luar rumah Sahri.

“Entah gimana-gimana, kami tertarik ikut ke Bandarlampung. Dulu ongkosnya seingat saya Rp600 ribu. Sampai sini, kami dikasih gerobak dan cari rongsokan,” beber Usup.

Mereka tak mendapat tempat. Meski begitu, Usup merasa Sahri keluarga yang baik. Usup menitipkan hasil jerih payahnya kepada Hj. Nur, yang tak lain adalah ibunda Sahri.

Setidaknya, dalam sehari Usup mampu mengahasilkan rongsokan antara Rp20 ribu-Rp40 ribu. Ya, penghasilan yang didapatnya tak menentu. Kalau ia letih, dia hanya bisa terbaring di sekitaran tempat tinggal Sahri.

Usup mengaku sedikit tak beruntung dibandingkan dua kawannya itu, Toni dan Ari. Temannya mampu mempelajari jalan-jalan di Kota Bandarlampung, sehingga bisa mencari rongsonkan pada siang hari.

Adapun harga loakannya dihargai untuk jenis kertas-kertasan Rp200 per kg, kantong pelastik Rp150 per kg, botol pelastik Rp1.200 per kg, botol beling Rp200 per kg, dan besi Rp17.000 per kg.

Hanya saja, Usup mengaku selama satu tahun setengah, tetap saja tak berani masuk-masuk ke gang atau jalan-jalan kecil. “Rute saya, Bumi Waras terus paling jauh ya ke sini (Jalan Sultan H). Saya takut tersesat. Sudah tidak ada uang. Tersesatkan repot pula,” ungkapnya.

Usup berangkat dari kediaman Sahri sejak siang atau sore hari. “Saya tidur di pinggir jalan, pas pagi-pagi saya biasa jalan ke Bumi Waras, mengais rongsokan di sepanjang jalan. Kalau pagikan banyak yang buang sampah,” jelasnya.

Ia menyadari, Sahri punya cara tersendiri agar Usup kembali ke rumahnya. Hasil rongsokan yang Usup bawa dibayar setelah pulang yang kedua kalinya. “Bayarnya kalau saya pulang lagi,” imbuh Usup.

Lokasi Jalan Sultan H menurutnya relatif aman untuk tempatnya tidur. Pengalamanya terdahulu, ia sempat tidur di sekitar pasar tengah, namun gerobaknya raib.

Usup sempat terbesit untuk pulang. Namun, sayangnya kedua temannya dari Kebumen itu justru menolak pulang. Malah keduanya, menyurutkan niat Usup.

“Berangkat bersama pulang juga sama, tapi mereka diajak engga mau pulang,” ungkapnya lagi.

Usup berencana, jika memang ada yang ingin memulangkannya dia sangat berterima kasih. Namun, kalau pun tidak, ia akan mengumpulkan uang ongkos sendiri.

“Akhir tahun ini rencananya mau pulang, meskipun mereka tidak mau. Saya mau pulang. Bagaiaman caranya saya sudah tidak sanggup seperti ini terus. Saya juga ninggalin anak istri,” tandas pria bersuku Sunda ini.

Menurut Usup, setidaknya ada 12 orang lainnya yang bergantung dengan mengais uang dari rongsokan seperti ia dan kedua temannya itu, yang dijual ke Sahri. “Tapi dua belas orang itu, semuanya orang sini. Entah mereka punya rumah atau tidak. Saya tidak tahu,” bebernya.

Sepanjang ia menceritakan kisahnya, setidaknya, tengah malam ada satu mobil yang menghentikan lajunya. Terlihat seorang perempuan bergaun putih memberi dua buah nasi dengan wadah styrofoam. “Selamat hari natal ya pak,” ucap wanita itu seraya berlalu.

“Beginilah tiap malam, saya tidurnya tidur-tidur ayam, kadang ada yang kasih uang, ada yang kasih nasi kayak ini. Saya terima. Saya duduk di pinggiran jalan biar ada yang lihat,” pungkasnya serasa membuka kotak nasi yang ia terima.

Tak lupa ia pun menawarkannya kepadaku, “Ayo bang, makan.” (*/sur)

Komentar

Rekomendasi