oleh

TBC Masih Jadi Penyakit Primadona

radarlampung.co.id – Tuberculosis (TBC) hingga kini masih menjadi penyakit primadona yang menghantui dunia kesehatan. Atas dasar tersebut, SSR TBC-HIV Care Aisyiyah turun ke lapangan melakukan preventif terhadap penyakit tersebut.

Koordinator Program SSR TBC-HIV Care Aisyiyah, Pristi Wahyu Diawati mengatakan, penyakit TBC tidak mudah untuk disembuhkan. Hal ini karena penyakit tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan penyakit menular lainnya. Dimana, butuh waktu minimal 6 bulan bahkan hingga 22 bulan bagi penderita untuk membunuh kumannya yang telah mengalami mutasi genetik hingga resisten terhadap obat.

“Dalam penanganan penyebarannya juga nggak cukup hanya pemerintah saja. Tapi harus berbagai pihak dan semua elemen masyarakat. Mengingat, penyakit TBC ini mudah sekali menular,” ungkap Pristi, Selasa (24/12).

Dia menjelaskan, Sub-sub Recipient (SSR) TBC-HIV Care Aisyiyah merupakan komunitas peduli dengan pencegahan penyakit TBC serta memutus mata rantai penularannya melalui wadah Aisyiyah.

“Di Lampung sendiri, SSR TBC/HIV Care Aisyiyah ini sejak 2011 lalu sudah aktif, kami sudah melakukan berbagai kegiatan preventifnya terhadap penyakit TBC di seluruh kabupaten/kota. Mulai dari penyiapan, pelatihan, evaluasi, dan monitoring kader SSR TBC/HIV Care Aisyiyah hingga penghimpunan data terduga TBC, penyuluhan, dan perujukan penderita ke rumah sakit,” jelasnya.

Menurutnya, berbagai kegiatan preventif sudah dilakukan, di antaranya capacity buliding yang dilaksanakan SSR TBC/HIV Care Aisyiyah Bandarlampung.

“Kami melaksanakan kegiatan yang dikemas dalam acara family gathering di Pulau Pahawang, dengan melibatkan langsung pihak Dinas Kesehatan, Kader TBC ‘Aisyiyah, dan pengelola Program TBC pada 30 puskesmas yang ada di Bandarlampung. Tujuannya, untuk memberikan tambahan semangat bagi kader SSR TBC-HIV Aisyiyah Bandarlampung,” terangnya.

Dalam acara ini juga, jelas Pristi, pihaknya memaparkan capaian SSR TBC/HIV Care Aisyiyah Bandarlampung dan kontribusinya terhadap capaian Dinas Kesehatan Bandarlampung, yakni dari Januari-Oktober 2019 sudah menemukan 9.333 terduga TBC dari 16.686 terduga yang ditemukan Puskesmas, Rumah Sakit, serta Klinik. Kemudian menemukan ada 621 pasien TBC dari jumlah temuan Dinas Kesehatan sebanyak 2.376.

“Kami juga membahas strategi bersama untuk menambah temuan kasus. Salah satunya dengan menyisir pasien penyakit tidak menular,” tandasnya.

Koordinator Pelaksana, Hasbullah menjelaskan, tidak hanya di Bandarlampung, SSR TBC-HIV Care ‘Aisyiyah di Lampung Tengah juga dalam menjalankan aksinya menemui langsung orang yang memiliki ciri-ciri penderita TBC.

Capaiannya, periode Juli hingga Oktober berhasil melakukan tes terhadap 1.236 terduga TBC. Kemudian investigasi kontak dengan 234 penderita TBC dan berhasil merujuk 93 berobat ke rumah sakit.

“Kami juga memberikan makanan tambahan kepada pasien TBC yang sedang dalam pengobatan serta silahturahmi intensif kepada kader dan pasien TBC yang sudah sembuh, ini supaya bisa memberikan motivasi dan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit TBC,” ucapnya.

Di Lampung Timur, 144 kader SSR TBC/HIV Aisyiyah yang tersebar di 24 kecamatan, pihaknya memberikan edukasi tentang bahaya penyakit TBC serta merujuk terduga ke Puskesmas jika memiliki ciri-ciri yang mengarah ke TBC.

Tidak hanya itu. Para kader juga melakukan pendampingan bagi masyarakat yang terdeteksi TBC+ selama pengobatan.

Data yang berhasil dihimpunnya, tahun 2019 per Januari hingga Juli Juli 2019 saja terdeteksi 3.242 terduga TBC dan 616 pasien positif TBC+.

“Ini belum termasuk penderita TBC yang masih enggan untuk memeriksakan diri ke puskesmas dengan alasan malu atau dianggap hanya batuk-batuk biasa. Makanya, kami tak henti-hentinya mengajak seluruh elemen masyarakat, stakeholder, dan organisasi masyarakat untuk bersama-sama memberikan perhatian terhadap kondisi penyebaran TBC di kabupaten ini. Yaitu dengan slogan TOSS TBC (Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberculosis),” pungkasnya. (rim/yud)

Komentar

Rekomendasi