oleh

Bangkitkan Harga Lada, Ini Saran Dewan Rempah Indonesia Lampung

radarlampung.co.id – Anjloknya harga komoditi rempah Lampung, lada semenjak lima tahun terakhir banyak membuat petani lada mengalihkan lahannya untuk menanam komiditi pertanian lainnya.

Dewan Rempah Indonesia (DRI) Lampung mencatat saat ini produksi lada tak sampai 500 kilogram per hektar. Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan dengan Vietnam yang bisa menghasilkan 2 hingga 3 ton per hektar. Padahal harga jual lada asal Vietnam juga berkisar Rp20 ribuan untuk saat ini.

“Produktivitas lada turun sekarang, per hektar sekarang tidak sampai 500 kilogram. Pada tahun 2000-2005 harganya 1000-1500 kilogram per hektar. Padahal, Vietnam sama dengan kita untuk harganya tapi produktivitas disana bisa 2 hingga 3 ton per hektar,” beber Ketua Dewan Rempah Indonesia (DRI) Lampung Untung Sugiyatno saat dihubungi melalui ponselnya, Rabu (25/12)

Merosot jauhnya harga lada ini, kata Untung dipengaruhi banyak faktor. Pertama, petani kurang bisa merawat komiditas lada. Salah satunya tanaman lada kurang pupuk.

“Meskipun ada (pemupukan) tapi tidak banyak, kemudian banyak tanaman yang sudah tua tidak diperbaharui. Ada hama penyakit hingga resiko pencurian sebelum panen. Ini lah faktor-faktor makin menurunnya harga lada,” tambah Untung.

Sayangnya, untuk menstabilkan harga lada ini memang tidak dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Karena harga lada dipengaruhi oleh kegiatan ekspor dan bergantung pada harga pasar dunia.

Namun, lanjut Untung, Pemerintah bisa mengupayakan konsumsi lokal lada untuk mengurangi anjloknya harga lada untuk saat ini. Seperti mengupayakan menyerap konsumsi lokal, mulai dengan aneka makanan dari lada misalnya steak, minuman juga. Tapi memang, hal tersebut perlu waktu.

“Upaya lain yang bisa dilakukan misalnya diversifikasi produk. Jadi sudah dari zaman dahulu jangan hanya jual dalam bentuk lada saja, saat ini lada juga bisa disuling menjadi minyak lada,” tambah Untung.

Dengan satu kilogram lada, bisa menghasilkan 10 milimeter minyak. Minyak lada per 10 milimeter sendiri dijual dengan harga Rp90 ribu. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari hanya menjual biji lada saja.

“Nah ini yang sudah saya sampaikan ke Pak Gubernur untuk melakukan upaya itu. Maka untuk membangkitkan kejayaan lada di Lampung. diberikan teknologi pembangunan agar produksinya bisa naik. Misalkan sekarang produksinya hanya 500 kilogram, tapi nanti kan bisa jadi 1 hingga 1,5 ton lebih menguntungkan. Dari segi harga jualnya jika sebelumnya hanya Rp10 juta bisa jadi Rp30 juta kan,” tandasnya. (rma/yud)

Komentar

Rekomendasi