oleh

Datang Hujan, Limbah TPA Bakung Mengalir ke Laut dan Cemari Sumur Warga

RADARLAMPUNG.CO.ID – Memasuki musim hujan, limbah sampah dari TPA Bakung diduga mengalir ke laut tanpa penyaringan lebih lanjut. Warga kudu sabar menunggu pembangunan kolam leachate (Ipl) dengan anggaran yang diambil dari APBD 2020 mendatang.

Wawan (53), warga Blok F1 & F2 RT 03/Lk. III, Perumahan Keteguhan Tahap II yang tepat di dekat talut penahan sampah mengaku, setiap hujan datang limbah sampah mengalir ke pemukiman.

Akhir tahun ini lantaran sudah ada tembok tinggi yang dibangun Pemerintah Kota (Pemkot), kekhwatiran longsor teratasi. Namun, terkait limbah yang mengalir di depan rumahnya melewati drainase menuju laut di pinggir bibir pantai Keteguhan masih tetap seperti biasanya.

“Setiap datang hujan pasti masalahnya air limbah ini. Tidak hanya mencemari laut, tapi juga mencemari sumur warga,” katanya saat ditemui di rumahnya, Senin (30/12) sore.

Wawan mengatakan, tiga puluh tahun sudah ia menempati rumahnya tersebut. Kondisi air tanah semakin buruk, selain kuning, juga menimbulkan bau tak sedap.

“Pertama saya beli rumah di perumahan ini tiga puluh tahun silam air sumur bor saya memang sudah kelihatan kuning. Memang jarak sumur saya hanya sekira 8 meter dari drainase yang dialiri limbah TPA Bakung,” jelasnya.

Sebelumnya, dia menyaksikan pada drainse tersebut masih ada ikan yang mampu hidup. Namun, sepuluh tahun kebelakang tidak lagi ada.

“Artinya ini berbahaya. Pak wali waktu meninjau juga bilang jangan sampai ada anak yang main air ini, karena bahaya, airnya sumur saya yang kedalamannya 50 meter saja kuning dan bau,” ujarnya.

Menurutnya, lima tahun sebelumnya dirinya masih menyaksikan kolam-kolam penampungan air sampah, sebanyak empat kolam. Yang berfungsi sebagai penyaring air sebelum dialirkan ke laut.

“Nah, sekarang sudah tidak ada lagi. Lebih parahnya tahun lalu, sampai longsor dan menyebabkan gunungan sampah mendekati rumah saya, dan airnya kemana-mana sampai depan rumah,” sebutnya.

Dirinya berharap, pembangunan tahap kedua untuk menutup seluruh bagian segera dilaksanakan, begitupun kolam-kolam kontrol yang telah dijanjikan.

“Saya juga berharap, gimana caranya drainase yang dialiri air limbah sampah ini juga di beton bawahnya. Supaya, airnya tidak terserap ke bawah dan mencemari sumur warga,” harapnya.

Dia menyebutkan, warga yang menggunakan sumur bor bukan hanya dirinya. “Hampir seluruh warga di samping drainse ini pakai sumur bor, karena kita perlu hemat, air PDAM juga kan kadang idup kadang tidak,” keluhnya.

Setidaknya, dirinya menyebutkan, ada tiga RT yang terdampak pencemaran. Yakni RT 01 LK. III, Kelurahan Sukamandi, RT 02 LK. III Perumahan Keteguhan tahap 1, RT03 perumahan Keteguhan tahap 2 dan RT 03 LK. III Perumahan Keteguhan tahap 2.

Diketahui, Wali Kota Bandarlampung Herman H.N. sempat meninjau pembangunan talud yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung, Selasa (15/10).

Menurut Herman, tujuannya dibangun talud penahan untuk mengantisipasi terjadinya longsor sampah ketika musim penghujan. Dinding penahan sampah itu dibangun setinggi 13 meter, panjang kurang lebih 60 meter dengan ketebalan dinding bagian 5 meter dan atasnya 3 meter.

Sementara, Kepala Dinas PU Bandarlampung, Iwan Gunawan mengatakan anggaran yang digelontorkan untuk pengerjaan proyek dinding tersebut sebesar Rp5 miliar dari APBD 2019 yang dikerjakan CV Dwi Arta.

Lebih lanjut dikatakan, untuk menciptakan TPA Ramah lingkungan, Dinas PU juga membangun kolam leachate (Ipl) dengan anggaran yang diambil dari APBD 2020 mendatang.

IPL akan dibangun berukuran diameter 10×10 dibagian atas dan dibagian bawahnya 10×5, yang tersambung ke saluran drainase. Kolam tersebut sebanyak 7 kolam leachate yang dikerjakan.

“Anggarannya sedang disusun konsultan. Spesifikasinya, rembesan air sampah akan masuk ke lubang yang ada di dinding penahan sampah, lalu merembes ke saluran drainase dan kolam lindi, saat masuk ke saluran umum sudah dalam kondisi baik dan tidak membahayakan warga,” urainya. (apr/sur)

Komentar

Rekomendasi