oleh

Ini Pandangan Ekonomi Lampung di 2020

radarlampung.co.id – Perlambatan ekonomi global yang membuat perlambatan ekonomi di negara-negara sumber pertumbuhan dunia menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekspor Lampung tahun 2019 dibandingkan tahun 2018. Bahkan pada triwulan I dan III ekspor Lampung mengalami kontraksi.

Namun demikian, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung mencatat, masih kuatnya konsumsi domestik membawa perekonomian Lampung di tahun 2019 masih mampu tumbuh positif dan diprediksi masih berada di atas pertumbuhan tahun 2018 dalam kisaran 5,1-5,5 persen (yoy).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan mengatakan, di tahun 2020, konsumsi domestik diperkirakan masih akan menjadi penopang utama ekonomi Lampung. “Perkiraan peningkatan disposible income yang diindikasikan dengan adanya kenaikan UMP (Upah Minimum Provinsi) Lampung sebesar 8,51 persen (yoy), pelaksanaan Pilkada di 8 Kota/Kabupaten akan menjadi pendorong peningkatan konsumsi domestik,” katanya.

Namun demikian, sambung dia, kemungkinan tidak adanya kenaikan gaji pokok PNS (Pegawai Negeri Sipil) tahun 2020 dan juga kenaikan beberapa tarif kebutuhan dasar dapat menjadi faktor yang menahan pertumbuhan konsumsi lebih tinggi di tahun depan.

Masih berlangsungnya beberapa proyek strategis nasional di Lampung serta beberapa rencana pembangunan proyek daerah dapat menjadi penopang ekonomi Lampung di tahun 2020, meskipun nilai realisasi investasi diperkirakan akan menurun dibandingkan tahun 2018 dan 2019 seiring dengan telah selesainya pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Selain itu, kebijakan B30 yang digulirkan pemerintah hingga akhir tahun 2020 menjadi B50 juga menjadi faktor yang dapat mendorong pertumbuhan industri pengolahan Lampung untuk tumbuh lebih baik di tahun 2020. Pertumbuhan World Trade Volume di tahun 2020 diasumsikan relatif membaik dengan potensi bias ke bawah akibat masih berlangsungnya potensi perlambatan ekonomi pada negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Tiongkok dan Jepang.

“Meski harga komoditas dunia seperti kopi, kelapa sawit, karet dan lada diperkirakan mengalami sedikit perbaikan di tahun 2020, levelnya masih diproyeksikan rendah,” tambahnya.

Selain itu, lanjut dia, di tahun 2020 diprediksi industri otomotif masih akan mengalami kontraksi karena standar emisi baru yang diterapkan oleh negara di kawasan Uni Eropa. Di lain sisi, sektor jasa justru mampu mempertahankan pertumbuhan sementara sektor manufaktur dan perdagangan masih cenderung lemah.

Menghadapi perlambatan dan ketidakpastian global serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung semakin tinggi, hilirisasi dan juga penciptaan sumber pertumbuhan baru perlu terus dilakukan. Hilirisasi produk unggulan Lampung seperti kopi robusta, CPO, karet, lada, nanas, komoditas perikanan serta berbagai komoditas unggulan Lampung perlu terus dipacu dan diintegrasikan dengan kawasan industri untuk meningkatkan nilai tambahnya.

“Dukungan infrastruktur strategis seperti jalan tol, fly over, bandara yang telah berstatus internasional, pelabuhan eksekutif serta pelabuhan ekspor berstandar internasional yang telah dimiliki Lampung dapat menjadi kekuatan utama dalam melakukan hilirisasi,” katanya.

Di sisi lain, berbagai hambatan dari segi produksi, peraturan dan perdagangan yang menghambat perkembangan hilirisasi perlu diselesaikan dengan koordinasi efektif seluruh stakeholders terkait. Selain itu, dengan potensi kekayaan alam dan budaya, posisi yang strategis serta kemudahan akses transportasi, Lampung berpotensi menjadi daerah tujuan wisata unggulan bagi provinsi sekitarnya.

Dia mengatakan, dengan diresmikannya JTTS, perubahan status bandara Radin Inten II menjadi bandara internasional dan juga dibangunnya dermaga eksekutif Bakauheni, ke depan kunjungan wisatawan dari Sumatera dan juga Jawa ke Lampung berpotensi mengalami peningkatan.

Upaya penciptaan titik ekonomi baru berupa pengembangan sektor pariwisata yang memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan Lampung harus diimbangi dengan upaya untuk memajukan dan mempromosikan wisata Lampung khususnya pada aspek pengembangan akses ke lokasi wisata, atraksi wisata dan juga amenitas.

“Untuk mendukung pertumbuhan investasi Lampung, pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019 yang diselenggarakan pada 5 Desember 2019, diluncurkan website Forum Investasi Lampung (FOILA),” katanya.

Diluncurkannya website FOILA yang berisikan potensi investasi, data makro ekonomi Lampung dan juga informasi-informasi yang diperlukan calon investor, diharapkan dapat menjadi pendorong masuknya investasi untuk pembangunan titik-titik ekonomi baru di Provinsi Lampung dan juga program hilirisasi.

Berbagai perizinan, kebijakan pajak dan retribusi daerah, serta peraturan RTRW daerah yang kerap menghambat minat investor harus semakin dipermudah dan dipercepat penyelesaiannya. Hadirnya website FOILA diharapkan dapat menjadikan Lampung sebagai daerah yang makin ramah investasi di tahun 2020.

Dengan berbagai tantangan ke depan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung memperkirakan pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2020 akan berada pada kisaran 5,3-5,7 persen (yoy) atau lebih baik dibandingkan pertumbuhan tahun 2019. Kondisi global yang cenderung masih bergejolak dapat terkompensasi dengan masih kuatnya ekonomi domestik Lampung di tahun depan. (ega/ang)

Komentar

Rekomendasi