oleh

Ibu Diusir Anak Kandung, Polsek Waypengubuan dan Warga Bangunkan Rumah

radarlampung.co.id – Ibarat pepatah seorang ibu bisa merawat sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibu. Hal inilah yang dialami Sarah (60), warga Dusun Tanjungmulya, Kampung Tanjungratu Ilir, Kecamatan Waypengubuan, Lampung Tengah, janda tua yang diusir dari rumah anak kandungnya, ID (25).

Menurut Sarah, pengusiran yang dilakukan putri keduanya ini bukan kali pertama. “Ini bukan pertama kali. Sudah beberapa kali saya diusir anak. Bahkan mendapatkan perkataan kasar dari anak. Saya juga sudah tak tahan mendapat ucapan kasar. Ketika diusir, saya menumpang di rumah tetangga bersama putri pertama saya yang juga berstatus janda. Perhatian tetangga cukup baik,” katanya.

Sarah juga merasa terharu karena mendapat bantuan dengan dibuatkan rumah secara bergotong-royong oleh Polsek Waypengubuan, kepala kampung, Forkopimcam, dan warga dengan menumpang di tanah milik tetangga almarhum Sunar. Saya ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan ini,” ungkapnya.

Kapolsek Waypengubuan Iptu Widodo Rahayu menyatakan dirinya mendengar ada pengusiran ibu kandung ini merasa iba. “Saya dapat informasi ini merasa iba. Tergerak hati saya untuk membantu. Saya langsung menghubungi Kakam, camat, dan warga sekitar untuk bersama-sama secara bergotong-royong membuatkan rumah,” katanya.

Widodo berharap hal ini menjadi contoh ke depannya agar memiliki rasa peduli terhadap sesama. “Hal ni adalah bentuk rasa cinta serta kepedulian terhadap masyarakat yang kurang mampu. Ke depannya, saya harap semua warga yang ada di Waypengubuan ini melakukan hal sama. Saya juga ucapkan terima kasih kepada Forkompimcam, Kakam, serta warga sekitar yang sudah mendukung progam kami ini,” ujarnya.

Sedangkan Camat Waypengubuan Dahrif Ansori yang hadir dalam pembuatan rumah sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Polsek Waypengubuan. “Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada jajaran Polsek Waypengubuan akan kepeduliannya terhadap warga yang membutuhkan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh bagi warga lainnya, khususnya warga Waypenguan,” katanya.

Terkait pengusiran ibu kandung ini, kata Dahrif, dirinya tidak tahu pasti ceritanya. “Saya nggak tahu pasti. Saya juga nggak banyak tanya karena urusan keluarga. Tapi, melihatnya motif ekonomi. Kita juga tidak boleh menghakimi. Saya juga minta kepada ibunya untuk mendoakan anak yang baik-baik dan bukan menyumpahi. Kita tidak tahu siapa tahu ke depannya bisa berubah,” katanya via telepon. (rnn/sya/ang)

Komentar

Rekomendasi