oleh

Pedagang Kaki Lima Digusur, Ternyata untuk Bangun Ini

radarlampung.co.id – Penggusuran yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Lampung terhadap pedagang kaki lima dan kios di depan PKOR Wayhalim, ternyata lokasi tersebut untuk dibangun hotel bintang lima.

Kabid Penegakan Perda Satpol PP Lampung, Lakoni, SH. MH, menjelaskan, PT Wayhalim yang sebagian besar sahamnya milik Aburizal Bakri akan membangun hotel bintang lima, sport center, apartemen dan gedung pertemuan di lokasi tersebut.

Pembangunan hotel bintang lima itu, akan dibangun di atas tanah seluas 7,8 hektar, sehingga para pedagang disekitaran lokasi harus angkat kaki. Sebab, pemilik lahan akan memasang pagar untuk pengamanan material.

“Makanya, lokasi ini harus dikosongkan. Selain itu, akan dilakukan pembersihan di sepanjang drainase,” imbuhnya.

Dari hasil perundingan panjang dengan para pedagang yang menolak penggusuran, akhirnya disepakati adanya penambahan waktu selama lima hari untuk para pedagang berkemas-kemas. Kesepatanan itu juga didasari adanya permintaan tambahan dari warga memberikan batas waktu hingga RM Mie Aceh dan Soto Lamongan harus dibongkar.

“Kita sudah hubungi PT Wayhalim, pihak perusahaan memberi batas waktu lima hari dan pedagang menyanggupi,” terangnya.

Menurutnya, tindakan penggusuran sudah sesuai ketentuan yang berlaku berupa surat himbauan, teguran dan peringatan I, II dan III dan hasil audiensi waktu lalu agar mereka membongkar sendiri bangunannya.

“Tapi, setelah sampai disini, mereka justru minta kesepakatan baru, yakni mereka akan pindah jika RM Mie Aceh dan Soto Lamongan juga pindah,” katanya.

Kesepatanan antara warga perwakilan PT Wayhalim dan Satpol PP sebagai saksi dibubuhkan diatas surat pernyataan, sehingga pihaknya tidak akan mengelurkan surat peringatan kembali. “Kalau lima hari juga tidak kosong. Terpaksa kami robohkan. Termasuk RM Mie Aceh dan Soto Lamongan. Intinya kalau dua rumah makan itu kosong mereka ikut kosong,” jelasnya.

Ditambahkan, pihaknya terus melanjutakan pembongkaran terhadap lapak dan kios yang tak berpenghuni. “Dari 70 sekian kios dan lapak, cuma ada 37 ini (pedagang pinggiran Jalan Sultan Agung) yang menunggu pembongkaran Mie Aceh dan Soto Lamongan,” tandasnya. (apr/yud)

Komentar

Rekomendasi