oleh

Rekonstruksi Pembunuhan Belantik Sapi, 100 Adegan Diperagakan

radarlampung.co.id – Polres Lampung Tengah menggelar rekonstruksi pembunuhan dua belantik sapi, Nur Sodik (35) dan Sukirno (38), Kamis (30/1). Rekonstruksi tidak dilakukan di TKP guna menjaga keamanan tersangka Mulyadi (33).

Kasatreskrim Polres Lamteng AKP Yuda Wiranegara menyatakan tidak digelarnya rekonstruksi pembunuhan dua belantik di TKP guna menjaga keamanan tersangka Mulyadi. “Kita tak gelar rekonstruksi di TKP. Ini demi keamanan tersangka. Kita gelar rekonstruksi di ruang Tekab 308 dan halaman Satreskrim Polres Lamteng,” katanya.

Rekontruksi, kata Yuda, ada 100 adegan. “Ada 100 adegan dengan 8 saksi dan 2 peran pengganti korban meninggal. Hadir juga 30-an keluarga korban. Kakam Bumirahayu dan Kakam Rantaufajar juga hadir menyaksikan rekonstruksi,” ujarnya.

Adegan, kata Yuda,  dari awal dimulainya tersangka Mulyadi mendatangi rumah korban Nur Sodik yang menagih janji utang namun tidak dibayar. “Korban pulang membeli racun tikus dan menghubungi korban akan membeli sapi miliknya. Terjadi kesepakatan, korban Nur Sodik dan Sukirno mengantar tiga ekor sapi menggunakan pikap ke rumah tersangka Mulyadi. Setiba di rumah Mulyadi, tersangka menyuruh istri beserta anaknya masuk ke dalam kamar dan tidak boleh keluar. Tersangka Mulyadi membuatkan kopi untuk korban dicampur dengan racun tikus atau timex. Tersangka juga membuat kopi untuk dirinya sendiri yang tidak ada racunnya,” ujarnya.

Setelah meminum kopi, kata Yuda, korban Nur Sodik muntah–muntah dan pusing. “Tersangka mengerok korban. Tersangka Mulyadi ke dapur diikuti Sukirno dan bertanya kepada Mulyadi, ‘Kamu apakan teman saya si Nur Sodik?’. Dijawab, ‘saya racuni’. Spontan tersangka mengambil pipa besi memukul korban Sukirno hingga meninggal. Kemudian menghampiri korban Nur Sodik. Nur Sodik bertanya kepada tersangka, ‘Mana Sukirno?’ Tersangka menjawab, ‘Saya bunuh’. Tersangka memukul Nur Sodik juga menggunakan pipa besi hingga meninggal. Satu per satu korban dibawa ke pinggir sungai menggunakan motor. Korban yang dibawa pertama Sukirno ditaruh di pinggir sungai. Tersangka membawa cangkul dan tali ke pinggir sungai. Satu ditenggelamkan hingga ditimbun lumpur. Satu diikat di bawah akar pohon pinggir sungai,” ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, pembunuhan dua belantik sapi yang dilakukan Mulyadi (33), warga Kampung Bumirahayu, Kecamatan Bumiratunuban, Lampung Tengah, ternyata dipicu masalah utang-piutang. Lima hari sebelum kejadian, Mulyadi sempat menagih utang Rp5 juta kepada Nur Sodik (35), Kampung Rantaufajar, Kecamatan Raman Utara, Lampung Timur.

“Lima hari sebelum kejadian, saya nagih utang urusan jual-beli sapi kepada Nur Sodik sebesar Rp5 juta di rumahnya karena sudah hampir setahun belum dibayar. Tapi, ketika ditagih selalu beralasan tidak ada. Pulang dari rumah Nur Sodik, saya mampir ke pasar beli racun Thimex. Empat bungkus saya masukkan ke dalam toples,” kata Mulyadi dalam ekspose di Mapolres Lamteng, Selasa (19/11).

Secara kebetulan, kata Mulyadi, ada yang mau membeli sapi. “Saya dapet lokak ada yang mau membeli sapi. Saya hubungi Nur Sodik. Kata Nur Sodik ada sapi tiga ekor mau dijual Rp60 juta. Saya minta diantar ke rumah. Pada Kamis (31/10), sapi diantarkan oleh Nur Sodik dan rekannya Sukirno. Sapi langsung dimasukkan ke kandang. Jual-beli sapi sesama belantik bisa bayar down payment (DP) dahulu. Biasanya DP Rp10 juta. Tapi, saya kasih DP Rp25 juta. Saya bilang jadi saya udah kasih DP Rp30 juta berikut utang Rp5 juta. Nur Sodik nggak mau, katanya sapi mau diambil lagi jika begini caranya,” ujarnya.

Hal ini, kata Mulyadi membuat dirinya kesal dan kalaf. “Saya kesal. Saya masuk ke dalam rumah membuat kopi. Dua gelas kopi saya campur dengan Thimex dan segelasnya untuk saya minum tak dicamput Thimex. Kami minum bersama. Setelah minum, keduanya merasa pusing-pusing. Nur Sodik merasa masuk angin dan minta dikerokin. Saya suruh masuk dalam rumah dikerokin. Saya kerokin,” tuturnya.

Selanjutnya, kata Mulyadi, dirinya ke luar rumah menghampiri Sukirno. “Di luar, Sukirno curiga. Sukirno mengatakan bahwa saya meracuninya dan Nur Sodik. Saya bilang iya. Terjadi perkelahian. Saya ambil besi dodos dan pukul Sukirno dibagian punggung hingga tergeletak. Kemudian Nu Sodik juga keluar rumah mengatakan hal sama. Kami sempat berkelahi sebelum Nur Sodik roboh. Keduanya dipastikan meninggal,” ucapnya.

Setelah itu, kata Mulyadi, dirinya mengambil motor Honda BeAT BE 3034 NI warna biru. “Mayat Sukirno saya masukkan ke karung dan diikat dibawa ke pinggir ke sungai. Saya kembali lagi mengambil mayat Nur Sodik sambil membawa cangkul. Sukirno saya kuburkan di lumpur di pinggir sungai dan Nur Sodik saya ikatkan di akar pohon pinggir sungai. Lalu, saya pulang ke rumah dan mandi. Pakaian yang dikenakan saya buang untuk menghilangkan jejak,” ucapnya.

Mulyadi pun menghubungi rekannya untuk membawa sapi ke Pulau Beringin, OKU Selatan, Sumatera Selatan. “Saya telepon kawan untuk membawa sapi ke Pulau Beringin. Saya ikut naik mobil terpisah,” katanya.

Ditanya ketika kejadian pembunuhan apakah istrinya ada di rumah, Mulyadi menyatakan ada. “Ada di dalam kamar. Saya minta tak ikut campur urusan ini. Teman saya yang diminta mengantar sapi juga tak tahu sapi yang dibawa bermasalah,” akunya seraya sebelumnya tak rencana melakukan pembunuhan.

Sedangkan Kapolres Lamteng AKBP I Made Rasma Jemy didampingi Kasatreskrim AKP Yuda Wiranegara dan Kabag Ops. AKP Juli Sundara menyatakan tersangka dan korban saling kenal. “Saling kenal karena sesama belantik. Masalah awalnya dipicu jual beli-sapi pada Oktober 2018. Tersangka jual sapi dua ekor kepada Nur Sodik seharga Rp30 juta. Tapi, baru dibayar Rp25 juta. Jadi ada sisa Rp5 juta. Setahunan tak dibayar-bayar. Puncaknya 31 Oktober 2019 terjadi transaksi jual-beli sapi lagi hingga terjadi pembunuhan,” katanya.

Ketika hari nahas, kata Made, keluarga korban mencari tahu. “Nggak pulang-pulang, keluarga karban mencari tahu. Dihubungi korban dan tersangka tak aktif-aktif. Curiga, pihak keluarga menyusul ke rumah tersangka. Korban tak ditemukan. Begitu juga tersangka. Pihak keluarga melapor ke polisi. Kita lakukan penyelidikan. Mobil yang bawa sapi ditemukan di Kalibalangan, Lampung Utara. Akhirnya jenazah korban ditemukan di Way Punggur,” ungkapnya.

Diketahui perburuan pembunuh dua blantik sapi oleh Polres Lamteng yang di-backup Polda Lampung membuahkan hasil. Tersangka Mulyadi (33), warga Kampung Bumirahayu, Kecamatan Bumiratunuban, Lamteng, ditangkap di daerah Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangkabelitung.

Tersangka sempat melarikan diri ke Pulau Beringin, OKU Selatan, Sumsel. Ketika digerebek, tersangka sudah kabur. Dilakukan kembali penyelidikan, tersangka kabur ke Sungailiat. Tersangka dikejar dan menggerebek tempat persembunyiannya di perkebunan semangka lingkungan Bedeng Ake, Kelurahan Sinarjaya Jelutung, Sungailiat. Dibantu Resmob Polres Bangka, tersangka dapat dibekuk. Tersangka sempat melawan sehingga dilakukan tindakan terukur dengan menghadiahi dua timah panas.

Kronologis kejadian pembunuhan, korban Sukirno (38) dan Nur Sodik (35) berangkat dari Kampung Rantaufajar, Kecamatan Raman Utara, Lampung Timur, Kamis (31/10) sekitar pukul 18.30 WIB. Korban mengendarai mobil  Grand Max BE 8818 IX dengan muatan empat ekor sapi mengantarkan sapi ke rumah tersangka. Di rumah tersangka, korban disuguhi kopi yang sudah diberi racun tikus. Kedua korban pingsan.

 

Setelah itu, tersangka memukul leher korban dengan besi. Setelah kedua korban dipastikan meninggal, satu korban diikat di bawah kayu dalam air Way Punggur untuk menghilangkan jejak. Kemudian satunya dikuburkan di lumpur pinggir Way Punggur. Tersangka menyuruh rekannya untuk menjual sapi. Sayangnya, sapi belum sempat dijual sudah diamankan. Tersangka kabur ke Palembang,” ungkapnya.

Diketahui enazah Nur Sodik (35), warga Desa Rantaufajar, Kecamatan Raman Utara, Lampung Timur, ditemukan sudah menjadi mayat di Way Punggur, Kampung Bumirahayu, Kecamatan Bumiratunuban, Lampung Tengah, Sabtu (2/11) sekitar pukul 14.45 WIB. Pada Minggu (3/11) sekitar pukul10.30 WIB, giliran jenazah Sukirno (38) ditemukan. Sadisnya mayat Sukirno ditemukan dikubur dalam lumpur di pinggir sungai sekitar 50 meter dari penemuan mayat Nur Sodik. (sya/ang)

 

Komentar

Rekomendasi