oleh

Mengintip Sekolah di Lapas Anak, 75 Persen Ajarkan Pendidikan Karakter

LEMBAGA Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandarlampung berupaya memenuhi hak anak berhadapan dengan hukum (ABH) di tengah keterbatasan institusi ini. Apakah hak mereka bisa sama dengan anak lain yang ada di luar pemenjaraan? Radar Lampung melihat secara dekat kondisi mereka saat di dalam.

Laporan Rizky Panchanov, Bandarlampung

MESKI menyandang status LPKA Kelas II Bandarlampung, namun lokasinya jauh dari pusat kota. LPKA berdiri di Desa Masgar, Kecamatan Tegineneng, Pesawaran. Jaraknya 30 menit dari Bandarlampung dengan menggunakan sepeda motor.

Dari luar, LPKA tak seperti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) pada umumnya yang terkesan seram dengan jeruji besi dan kawat berduri. Di LPKA tidak ada kawat berduri. Justru terali besi di cat dengan penuh warna warni.

Setibanya di dalam, pukul 10. 00 WIB, kemarin Radar mendengar sayup-sayup lonceng. Rupanya ada sekolah di dalam dan kegiatan aktivitas belajar mengajar (KBM).

“Ada sekolah di dalam. Ayo kalau mau lihat,” ajak Palhan, Kasi Pengendalian dan Pengawasan Disiplin (P2D). Dari 149 ABH, sebanyak 58 ABH bersekolah di dalam LPKA itu. Mereka terbagi ke tiga jenjang. Dari SD 7 ABH, SMP 25 ABH dan SMA 26 ABH.

Kepala LPKA Kelas II Bandarlampung, Sambiyo menerangkan, sekolah di dalam LPKA ini sudah berlangsung sejak 2014.

“Sebelumnya kita kerjasama dengan PKBM Hikmah untuk ujian paket A,B dan C. Tidak ada sekolah reguler,” jelasnya saat menemani Radarlampung.co.id melihat sekolah yang ada di dalam LPKA.

Komentar

Rekomendasi