oleh

Dikenal Luas Via Facebook, Polisi Turut Jadi Konsumen

Barbershop kini kian menjamur dengan ciri khasnya masing-masing. Namun, pernahkah anda merasakan jasa pangkas rambut berbeda ala Dwi Putra Setiawan?

Laporan M. Tegar Mujahid/BANDARLAMPUNG

PANTULAN cahaya tampak mengedip dari bawah pohon rindang, di tepian trotoar jalan Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara, Bandarlampung. Seketika, cahaya tersebut menyita perhatian sebagian orang yang melintasi jalan tersebut. Tak terkecuali awak media ini.

Saat tertoleh, ternyata cahaya itu berasal dari gunting yang memantulkan cahaya matahari. Ya, gunting itu dimainkan lincah oleh pria muda yang berdiri tegak di bawah pohon rindang tersebut. Tepat di depannya, duduk pria muda lainnya. Ya, keduanya merupakan sang konsumen dan penjajak jasa cukur rambut yang memang terkesan berbeda.

Bagaimana tidak, tak ada bangunan semacam kios di lokasi tersebut. Melainkan hanya ruang alam terbuka. Tak jauh dari keduanya, terparkir motor tua, dengan koper merah sedikit kusam di atas jok. Penasaran, wartawan media ini lantas tergerak untuk mendekat.

“Iya mas? Mau coba jasa cukur saya?” sapa pria yang tampak asyik memainkan gunting di tangannya tersebut. Wah, ternyata pria bernama Dwi Putra Setiawan (22) merupakan penjajak jasa cukur keliling. Sungguh profesi yang sudah amat langka untuk saat ini.

Dan, sepeda motor tua berwarna hitam berpadu putih itu menjadi kuda besi andalannya. Di koper yang terletak di atas jok itulah segala perlengkapan gunting Magic Clip tanpa kabel, gunting hitam, semprotan air, kaca, sisir, hingga minyak rambut disimpanya.

Bicara hasil, ternyata tak bisa dipandang remeh. Pria duduk di kursi plastik di depannya yang nyaris rampung dicukur olehnya sudah mulai tampak aura gagah dan ketampanannya. Ya, ini berkat kelincahan Dwi memainkan gunting kepunyaannya.

Dwi yang merupakan warga Kampungsawah, Tanjungkarang Timur, Bandarlampung, ini mengaku urusan cukur mencukur bukan hal baru baginya. Sudah lebih dari enam tahun dia dengan lihai memainkan gunting dan sisir cukurnya.

Usut punya usut, dahulu dirinya ternyata merupakan karyawan di beberapa babershop. Namun, kini dirinya merasa bukan saatnya lagi untuk bekerja dengan orang lain. Mengandalkan motor kesayangannya, ia mulai menjalani profesi tukang cukur keliling seminggu belakangan ini.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesantren di Lampung Selatan ini mengaku memilih menjadi tukang cukur keliling dikarenakan tak punya modal besar bila harus membuka barbershop.

Pria yang memiliki panggilan unik Uta Saix ini mengatakan, jasa cukur yang ia jalani tidak mematok harga. Intinya seikhlasnya. “Ada yang membayar Rp5 ribu, Rp10 ribu, hingga Rp15 ribu,” bebernya. Dari nominal beragam itu, ia mendapat pendapatan dalam sehari pun tak menantu, sekitar Rp25 ribu hingga Rp80 ribu.

“Tapi alhamdulillah, setiap hari ada saja yang mau gunting ke saya. Bahkan ada yang sudah menghubungi saya dulu melalui medsos Facebook, Bang mangkal dimana?,” Katanya usai memangkas rambut.

Uta sendiri menyebutkan, selain pelajar, anak anak muda dirinya juga pernah menggunting rambut pak polisi, hingga pria dewasa yang didampingi isitrinya yang kebetulan lewat di tempat dia mangkal. Tak jarang pelanggannya memuji hasil kerjanya dengan mengangkat jempol.

“Jam kerja saya biasanya jam 09.30 WIB hingga jam 17.30 WIB, setiap hari bisa ada 2 sampai 7 rambut yang saya pangkas. Tergantung juga dengan batre cukur rambut saya yang memang tanpa listrik,” kata Uta

Uta mengaku pernah mengalami hal yang menguji kesabarannya. Yakni, ketika Uta membuka lapak di trotoar Pahoman saat baru mulai memotong rambut konsumen. Kala itu tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Akhirnya orang yang baru dipangkasnya pulang, dan dirinya mencari tempat berteduh walau sebagian koper dan badannya sudah terkena air hujan.

Pria yang memiliki istri bernama Heni Pertiwi ini mengaku tinggal di kontrakkan berukuran delapan kali lima yang berada di Kampungsawah Lama, Tanjungkarang Timurmur. Hanya keahlian mencukur yang dia punya agar dapur di rumahnya tetap ngebul.

Uta mengaku terinspirasi dari idolanya Tengku Fadli saat dirinya memutuskan membuka usaha cukur rambut keliling, keluar dari tempat dirinya bekerja di babershop.

“Berkarya itu gak mesti di dalam ruangan, bisa di atas gunung, di bawah pohon, di tepi jalan, dari kata Tengku Fadli idola saya di medsos story Instagramnya yang akhirnya menginspirasi saya,” katanya.

Ronny, salah satu pelanggan Uta mengaku dirinya tertarik untuk potong rambut karena melihat keunikannya.

“Hasilnya keren yang saya liat di Facebook bang Uta, sensasinya beda diliatin orang berkendara ditambah angin sepoi sepoi,” ucapnya sembari tersenyum. (*/sur)

Komentar

Rekomendasi