oleh

Sekolah untuk ABH

FOTO DAN NASKAH ALAM ISLAM

SAMA seperti siswa pada umumnya. Mengenakan seragam sekolah. Belajar di kelas dan dipandu guru. Namun lokasinya berbeda. Mereka, anak-anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandarlampung.
Anak berhadapan dengan hukum (ABH). Begitu sebutan untuk mereka yang masih di bawah umur, namun harus menjalani hukuman lantaran terlibat sejumlah kasus kejahatan. Penjara, tidak membuat mereka kehilangan hak menempuh pendidikan.

Dari 149 ABH, sebanyak 58 orang sekolah di LPKA. Mereka terbagi dalam tiga jenjang. Tingkat SD sebanyak tujuh orang, SMP 25 ABH, dan SMA 26 ABH.

Pendidikan tersebut untuk memenuhi hak anak, sesuai UU Nomor 7 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Saat resmi menjadi penghuni LPKA, mereka ditanyai, apakah ingin melanjutkan sekolah atau tidak. Gratis.

Jika mau, apabila status anak masih tercatat di sekolah sebelumnya, maka mereka akan pindah sekolah dan tercatat sebagai siswa Yayasan Dwi Mulya, sekolah yang bekerjasama dengan LPKA. Para ABH belajar dari Senin hingga Kamis.

Memang, porsi mengajar pendidikan karakter untuk para ABH lebih banyak ketimbang siswa yang di luar. Mencapai 75 persen. Barulah disusul kompetensi. Mereka, para ABH. Tetap berkeinginan berubah. Tidak kehilangan hak walau di dalam penjara. (*)

Komentar

Rekomendasi