oleh

Pasar Basemen Ramayana Mulai Ditinggalkan Pedagang

radarlampung.co.id – Pasar tradisional yang berada di bawah Mall Ramayana Tanjungkarang Pusat, kini mulai ditinggalkan pedagang. Kondisi yang tak terawat dan sepinya pembeli menjadi penyebabnya.

Mami (59) salah satu pedagang ikan yang menempati amparan mengatakan, meskipun kondisi sudah terasa sejak lima tahun terakhir, sepinya pedagang semakin parah sejak pertengahan 2018. Hal ini lantaran kondumen tak berminat membeli di pasar tersebut.

“Kalau dulu 40 kg itu bisa habis dalam setengah hari. Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi pada pedagang ikan dan daging, tukang sayur, kelapa dan rempah-rempah lainnya mengalami sepi, tidak ada sama sekali pembeli, paling dua atau tiga orang saja yang datang,” katanya kepada Radar Lampung disela dirinya berdagang, Rabu (4/3).

Saat ini, pedagang ikan yang berjualan hanya tersisa tak lebih dari 10 orang. Bergitupun pedagang jenis lainnya, yang hanya tersisa hitungan jari. Ada pedagang rela menjual amparannya dengan biaya Rp3 juta sampai Rp5 juta per amparan. “Kalau kios sewanya dengan Bumi Waras,” kata Mami.

Dirinya berharap kepada pemerintah untuk memberikan solusi, agar pembeli bisa kembali ramai membeli di Pasar bawah Mall Ramayana itu. Setidaknya, pihaknya tetap bertahan dengan kondisi yang ada, lantaran tidak mampu sewa di tempat lain.

“Ya, kita kan tidak lagi setor cicilan per bulan, tinggal setoran per hari itu Rp4 ribu untuk uang kebersihan, uang satpam, uang keamanan, dan penjaga malam,” jelasnya.

Tak jauh berbeda penuturan pedagang sayur mayur, Mai (50) menyebutkan, pasar bawah Ramayana pada 20 tahun silam merupakan pasar tradisional yang paling diminati dan ramai pembeli. “Kalau sekarang di sini pasar yang paling sepi,” keluhnya.

Dirinya megakui, sepinya pembeli lantaran perekonomian yang kian memburuk, ditambah dengan pola pembeli yang berubah serba instan alias tak mau ribet. “Bisa jadi sekarang makanan online banyak. Sudah pada malas memasak,” duganya.

Biasanya, Mai memperoleh hasil sehari bisa ratusan ribu, kini rata-rata hanya mampu Rp80 ribu per hari. Perbandingan penurunannya hingga 80 persen. Ia meminta pihak terkait dapat memberikan solusi agar pasar kembali ramai.

Pedagang rempah-rempah, Supinah (59) menyebutkan, kondisi pasar yang kumuh juga menjadi penyebab minimnya pengunjung. Bahkan, seingatnya, selama 20 tahun pasar bawah berdiri belum ada perbaikan. “Kita masuk tahun 2000, tidak ada perbaikan, ya begini-begini saja, satu keluar dua keluar, lama-lama pedagangnya sepi kayak gini,” tandasnya.

Menanggapi kondisi pasar basemen Mall Ramayana, Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandarlampung Adiansyah membenarkan bila pedagang dan pembeli mulai berkurang. Namun, meskipun demikian masih ada pedagang yang tetap bertahan, karena sudah memiliki langgganan.

“Seperti pedagang ikan, di pasar bawah ini memang ikannya khusus ikan sungai dan air tawar. Sehingga mereka masih tetap bertahan juga, karena masih memiliki pelanggan yang bersimpatik,” katanya ditemui di ruangannya.

Penyebab sepinya pembeli juga dipengaruhi keberadaan pasar yang berada dibawah gedung Mall Ramayana, yang tak nampak dari luar. Selain itu, adanya keberadaan pasar tradisional lainnya yang terbilang besar, seperti Pasar Tugu, Pasar Smep dan Pasar Pasir Gintung.

“Pasar Pasir Gintung ini banyak agen-agen, ada juga Pasar Smep jadi warga yang tinggalnya di Gedongair dan sekitaran ya belanjanya di situ. Nah, kalau di sebelah timur ada Pasar Tugu di situpun ramai. Sedangkan pasar bawah Ramayana ini berada di sekitaran ruko-ruko yang sekedar jualan saja,” jelasnya.

Dia menyebutkan pasar yang berdisi di atas tanah Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) itu bangunannya merupakan milik CV Bumi Waras. “Yang bangun semuanya BW, yang kita kelola hanya pedagang yang ada di basemen saja,” ujarnya.

Dengan adanya keadaan tersebut, pihaknya tak bisa menapik bila pembeli akan terus sepi lantaran pola kebiasaan dan banyaknya pilihan mencari sumber konsumsi dengan cara lain. “Dia sepi karena dia berada di bawah basemen, ya mungkin orang sungkan ke sana,” ucapnya.

Lantaran aset bangunan dan tanah pasar itu bukan milik Pemerintah Kota Bandarlampung, maka dirinya hanya bisa menjanjikan untuk meningkatkan kebersihan pasar basemen dengan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup.

“Kita tetatp upayakan untuk melalukan peningkatan kebersihan disitu, melalui dinas lingkungan hidup. Kita kan tidak berdiri sendiri, sekarang kewenangan kebersihan ada pada mereka, kalau dulu pasar (dinas pasar). Tetapi kita tidak bisa merubah itu secara total,” tandasnya. (apr/yud)

Komentar

Rekomendasi